- See more at: http://blog-rangga.blogspot.com/2013/08/cara-membuat-blog-anti-copy-paste-dan.html#sthash.inw5IHhz.dpuf

Selasa, 30 Desember 2014

SEBERKAS CAHAYA LAMPION

Berkelanaku keujung dunia, menapaki sekilas masa yang begitu suram. Lelah kaki ini melangkah demi menghapus semua masa lalu yang membuatku tenggelam dalam gelap. Begitu banyak lampion mulai menemani setiap langkah ini, berusaha bangkit dan berdiri tegak menghadap langit.
Pagi yang dingin menusuk tulangku dan membangunkanku dalam mimpi dan tiba-tiba terdengar suara dari arah dapur yang mengejutkan aku.
“praak” suara gelas pecah dari dalam dapur.
“ma?” teriakku dari kamar seraya mencari tahu apa yang terjadi dibawah. Tak ada suara menyahut dari dalam dapur semakin penasaran aku turun dan menemukan hal yang begitu mengejutkan.
“papa” kagetku bukan main.
“apa yang papa lakukan? Kenapa papa selalu marah? “teriakku kepada papa
“kamu anak kecil tahu apa? Sukanya hanya minta duit aja sudah berani ngomong kamu?” bentak papa.
Suasana hening seketika, hanya suara tangis mama yang terdengar sayu-sayu seraya mengiringi kepergian papa yang meninggalkan kami.
Suasana seperti inilah yang tak pernah kuinginkan apalagi terpikirkan pun tak pernah. Keluargaku memang keluarga yang dapat dikatakan mampu, akupun tak pernah kekurangan suatu apapun selalu berkecukupan bahkan dapat dikatakan berlebihan. Aku tinggal dirumah ini bersama Papa, Mama dan kedua kakakku. Dulu memang kami keluarga yang bahagia tetapi setelah papa dipindahkan tugas keluar kota banyak kejadian yang membuat keluarga kami berantakan seperti ini.  Papaku memang salah satu seorang pengabdi negara.
“Lia...Lia.. bangun” teriak teman sekamarku yang sangat berisik pagi ini.
“heemt”  jawabku malas.
“kamu kuliah ndak si..? tanyanya. “ iya-iya aku kuliah kok, bentar lagi bangun” jawabku sambil menarik selimut lagi.
“tadi malam kamu pulang jam berapa si?” 
“ hemt jam 2 va, kenapa si?” jawabku malas.
“hah jam 2? Gile lu ngapain aja si jam 2 baru pulang? Sama Doni juga?” tanya Eva
“iyalah sama siapa lagi, udah ah gue mandi dulu”. Jawabku.
Aku seperti memiliki dunia sendiri saat ini. Aku merasa sangat nyaman saat jauh dari mereka orang tuaku, aku merasa sangat bebas seperti burung yang hanya mengikuti arus. Aku tak peduli dengan apa yang sekarang terjadi, kuliahku, temanku, dan semua yang ada disekitarku. Aku tak pernah peduli dengan omongan mereka yang selalu memakiku dengan caciannya sebagai seorang pelacurlah, pemakailah dan semuanya mereka bilang sesuka hati mereka.
Mereka hanya bisa bicara tak mengerti apa yang terjadi sebelumnya dalam hidupku. Masa lalu yang kelam dan semua cobaan yang aku hadapi. Mereka hanya melihat luarnya tanpa mempertimbangkan dalamnya, tapi aku tak peduli dengan semuanya aku selalu tegar dan mulai bersikap biasa saat mereka selalu menatapku dengan sinisnya. Hanya Eva yang selalu menyemangatiku dan membantuku. Aku mengenal Eva saat dia menemukanku seperti orang glandangan dijalan, dia mengangkatku sebagai saudara dan membantuku untuk kuliah disini. Dia adalah lampionku saat ini, walaupun keadaannya tak begitu baik, tetapi dia mampu mengubahku menjadi wanita yang sangat luar biasa saat ini.
Dahulu aku adalah wanita malam yang selalu pulang dini hari dan tak pernah pulang kerumah karena memang aku benci dengan keadaan rumah. Aku pernah membawa seorang pria kekos bergantian tiap malam, hingga banyak anak kos yang tak suka padaku hingga mereka mengusirku keluar. Disaat itulah datang sinar lampion kecil dengan langkah mantap menujuku tanpa berpikir panjang dia membantuku keluar dari dunia gelap ini.
“ Lia kalu bisa kamu jangan pulang dini hari lagi, aku khawatir”. Pinta Eva
“iya sayang aku nggak akan pulang dini hari lagi, janji karena tadi malam kan ada shift sampai pagi”. Jelasku
“sekarang kamu makan dulu terus baru berangkat”. Ajak Eva.
“siap bos..hehehehe” jawabku
Kami berdua pun makan bersama dan pergi ke kampus. Hari ini Eva kuliah samapi sore dan mau tak mau aku harus menunggunya sampai sore. Aku pun duduk ditaman dekat kantin tiba-tiba Andy datang menemuiku. Andy adalah mantan pacar Eva.
“hay Lia, apa kabar?” sapa Andy
“ hay juga , gue baik-baik saja, gimana lu?” tanyaku
“baik kok, eh ngomong-ngomong lu masih kerja nggak? Gue ada tawaran bagus ni pemotretan di studio kakak gue, gimana?” tanya Andy
Aku seketika bingung. Aku sudah berjanji dengan Eva untuk mengambil job-job pemotetran seperti itu, karena Eva takut aku akan terjatuh lagi kedalam lubang yang sama, semua orang tahu Andy adalah seorang yang selalu mencari wanita-wanita untuk diperkerjakan sebagi model sexy. Aku bingung karena aku pun masih butuh uang untuk menghidupi diriku sendiri dan tak bergantung dengan Eva. Akupun menerima tawaran Andy, dengan diam-diam aku melakuan pekerjaan yang dulu pernah aku lakukan, selain sebagai model akupun juga memjadi penari di bar. Semua kulakukan agar tidak menyusahkan Eva. Aku tahu lama-kelmaan Eva akan mengetahui apa yang aku lakukan, dan aku sudah siap untuk kehilangan kesetiaannya.
“Lia, ada klien tuh” datang Andy memanggilku
“oke, gue siap” jawabku, “maaflan aku Eva, aku menyayangimu” kataku dalam hati.
Aku tak tahu bahwa klien yang dibawa Andy adalah ternyata ayah Eva, yang seorang pengabdi negara. Kini kisah keluargaku terulang kembali dan diperankan olehku. Aku tak tahu sejak kapan Eva mengikuti dan akhirnyapun mengetahui apa yang selama ini aku lakukan. Aku sudah siap dengan semua yang kan terjadi. Aku merebut kebahagiaan keluarnya. Aku seperti benalu baginya, aku sangat muak dengan tubuh dan diri ini yang tak bisa menahan kesenangan yang selalu membuatku luka. Bukan maksudku balas dendam dengan  keadaan yang membuatku seperti ini, membuat berantakan keluargaku. Aku tak mau seperti ini.
“Eva maafin aku” gemetar aku mengucapkannya dengan isak tangisku menahan.
“ apa yang terjadi, kenapa kau lakukan ini padaku?” tanya Eva dengan gemetar tak mengerti
“aku minta maaf va, buka maksudku untuk membuatmu seperti ini” jelasku
“ maafkan aku juga Lia, aku yang membuatmu seperti ini” jelasnya menangis sambil memelukku.
“maksudmu?” tanyaku bingung.
“aku minta maaf, dan lupakan semua” jelasnya dan membuatku bingung, apa yang sebernanya terjadi.

Kini sinar lampion itu semakin terang semakin banyak, membuatku dapat melangkah pasti kedepan, walapun aku tahu bahwa Eva adalah salah satu orang yang membuat keluargaku rusak dan membuatku jatuh kelubang yang paling dasar, namun dia mampu mengangkatku dengan penuh semangat dan seperti lampion yang terang dan mampu membawaku kedunia yang lebih terang dan indah dengan jutaan lampion disampingku.

Jumat, 26 Desember 2014

                                                          FULL DAY SCHOOL

Pengertian Full Day School
Menurut etimologi, kata full day school berasal dari Bahasa Inggris. Terdiri dari kata full mengandung arti penuh, dan day  artinya hari. Maka full day mengandung arti sehari penuh. Full day juga berarti hari sibuk. Sedangkan school artinya sekolah. Jadi, arti dari full day school adalah sekolah sepanjang hari atau proses belajar mengajar yang dilakukan mulai pukul 06.45-15.00. Dengan demikian, sekolah dapat mengatur jadwal pelajaran dengan leluasa, disesuaikan dengan bobot mata pelajaran dan ditambah dengan pendalaman materi.
Sedangkan menurut terminologi atau arti secara luas, Full day school mengandung arti system pendidikan yang menerapkan pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar sehari penuh dengan memadukan system pengajaran yang intensif yakni dengan menambah jam pelajaran untuk pendalaman materi pelajaran serta pengembangan diri dan kreatifitas. Pelaksanaan  pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah mulai pagi hingga sore hari, secara rutin sesuai dengan program pada tiap jenjang pendidikannya. Dalam full day school, lembaga bebas mengatur jadwal mata pelajaran sendiri dengan tetap mengacu pada standar nasional alokasi waktu sebagai standar minimal dan sesuai bobot mata pelajaran, ditambah  dengan model-model pendalamannya. Jadi yang terpenting  dalam full day school adalah pengaturan jadwal mata pelajaran. Program ini banyak ditemukan pada sekolah tingkat dasar SD/MI swasta yang berstatus unggulan. Biasanya, sekolah tersebut tarifnya mahal dan FDS bagian dari program favorit yang “dijual” pihak sekolah.
Jika dilihat dari makna dan pelaksanaannya, full day school sebagian waktunya digunakan untuk program pelajaran yang suasananya informal, tidak kaku, menyenangkan bagi siswa dan membutuhkan kreativitas dan inovasi dari guru. Dalam hal ini, Salim berrpendapat berdasarkan hasil penelitian bahwa belajar efektif bagi anak itu hanya 3-4 jam sehari (dalam suasana formal) dan 7-8 jam sehari (dalam suasana informal).
Metode pembelajaran full day school tidak melulu dilakukan di dalam kelas, namun siswa diberi kebebasan untuk memilih tempat belajar. Artinya siswa bisa belajar dimana saja seperti halaman, perpustakaan, laboratorium dan lain-lain.
2.2. Latar Belakang Munculnya Full Day Schooll
Full day school pada awalnya muncul pada awal tahun 1980-an di Amerika Serikat. Pada waktu itu full day school dilaksanakan untuk jenjang sekolahTaman Kanak-kanan dan selanjutnya meluas pada jenjang yang lebih tinggi mulai dari SD sampai dengan menengah atas.
Ketertarikan para orang tua untuk memasukkan anaknya ke full day school dilatarbelakangi oleh beberapa hal, yaitu karena semakin banyaknya kaum ibu yang bekerja di luar rumah dan mereka banyak yang memiliki anak berusia di bawah 6 tahun, meningkatnya jumlah anak-anak usia prasekolah yang ditampung di sekolah-sekolah milik public (masyarakat umum), meningkatnya pengaruh televisi dan mobilitas para orang tua, serta kemajuan dan kemodernan yang mulai berkembang di segala aspek kehidupan. Dengan memasukkan anak mereka ke fullday school, mereka berharap dapat memperbaiki nilai akademik anak-anak mereka sebagai persiapan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya dengan sukses, juga masalah-masalah tersebut di atas dapat teratasi. Dan dalam hasil penelitian ini disebutkan bahwa anak yang menempuh pendidikan di fullday school terbukti tampil lebih baik dalam mengikuti setiap mata pelajaran dan menunjukkan keuntungan yang cukup signifikan.
Adapun munculnya system pendidikan full day school di Indonesia diawali dengan menjamurnya istilah sekolah unggulan sekitar tahun 1990-an, yang banyak dipelopori oleh sekolah-sekolah swasta termasuk sekolah-sekolah yang berlabel Islam. Dalam pengertian yang ideal, sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas proses pembelajaran, bukan pada kualitas input siswanya. Kualitas proses pembelajaran bergantung pada system pembelajarannya. Namun faktanya sekolah unggulan biasanya ditandai dengan biaya yang mahal, fasilitas yang lengkap dan serba mewah, elit, lain daripada yang lain, serta tenaga-tenaga pengajar yang “professional”, walaupun keadaan ini sebenarnya tidak menjamin kualitas pendidikan yang dihasilkan. Term unggulan ini yang kemudian dikembangkan oleh para pengelola di sekolah-sekolah menjadi bentuk yang lebih beragam dan menjadi trade mark,  diantaranya adalah fullday school dan sekolah terpadu.
2.3. Sistem Pembelajaran Full Day School
Full Day School (FDS) menerapkan suatu konsep dasar “Integrated-Activity” dan “Integrated-Curriculum”. Hal inilah yang membedakan dengan sekolah pada umumnya. Dalam FDS semua program dan kegiatan siswa di sekolah, baik belajar, bermain, beribadah dikemas dalam sebuah sistem pendidikan. Titik tekan pada FDS adalah siswa selalu berprestasi belajar dalam proses pembelajaran yang berkualitas yakni diharapkan akan terjadi perubahan positif dari setiap individu siswa sebagai hasil dari proses dan aktivitas dalam belajar. Adapun prestasi belajar yang dimaksud terletak pada tiga ranah, yaitu:
1)      Prestasi yang bersifat kognitif
Adapun prestasi yang bersifat kognitif seperti kemampuan siswa dalam mengingat, memahami, menerapkan, mengamati, menganalisa, membuat analisa dan lain sebagianya. Konkritnya, siswa dapat menyebutkan dan menguraikan pelajaran minggu lalu, berarti siswa tersebut sudah dapat dianggap memiliki prestasi yang bersifat kognitif.
2)      Prestasi yang bersifat afektif
Siswa dapat dianggap memiliki prestasi yang bersifat afektif, jika ia sudah bisa bersikap untuk menghargai, serta dapat menerima dan menolak terhadap suatu pernyataan dan permasalahan yang sedang mereka hadapi.
3)      Prestasi yang bersifat psikomotorik
Yang termasuk prestasi yang bersifat psikomotorik yaitu kecakapan eksperimen verbal dan nonverbal, keterampilan bertindak dan gerak. Misalnya seorang siswa menerima pelajaran tentang adab sopan santun kepada orang lain, khususnya kepada orang tuanya,  maka si anak sudah dianggap mampu mengaplikasikannya dalam kehidupannya.
Sebelum kita membahas tentang sistem pembelajaran FDS, tentunya kita perlu mengetahui tentang makna sistem pembelajaran itu sendiri. Sistem adalah seperangkat elemen yang saling berhubungan satu sama lain. Adapun sistem pembelajaran adalah suatu sistem karena merupakan perpaduan berbagai elemen yang berhubungan satu sama lain. Tujuannya agar siswa belajar dan berhasil, yaitu bertambah pengetahuan dan keterampilan serta memiliki sikap benar. Dari sistem pembelajaran inilah akan menghasilkan sejumlah siswa dan lulusan yang telah meningkat pengetahuan dan keterampilannya dan berubah sikapnya menjadi lebih baik.
Adapun proses inti sistem pembelajaran FDS antara lain:
1)      Proses pembelajaran yang berlangsung secara aktif, kreatif, tranformatif sekaligus intensif. System persekolahan dan pola fullday school mengindikasikan proses pembelajaran yang aktif dalam artian mengoptimalisasikan seluruh potensi untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal baik dalam pemanfaatan sarana dan prasarana di lembaga dan mewujudkan proses pembelajaran yang kondusif demi pengembangan potensi siswa yang seimbang.
2)      Proses pembelajaran yang dilakukan selama aktif sehari penuh tidak memforsir siswa pada pengkajian, penelaahan yang terlalu menjenuhkan. Akan tetapi, yang difokuskan adalah system relaksasinya yang santai dan lepas dari jadwal yang membosankan.
2.4. Faktor  Penunjang dan Penghambat Full Day School
2.4.1.      Faktor Penunjang Full Day School
Setiap sistem pembelajaran tentu memiliki kelebihan (faktor penunjang) dan kelemahan (faktor penghambat) dalam penerapannya, tak terkecuali sistem full day school. Adapun faktor penunjang dari pelaksanaan sistem ini adalah setiap sekolah memiliki tujuan yang ingin dicapai, tentunya pada tingkat kelembagaan. Untuk menuju kearah tersebut, diperlukan berbagai kelengkapan  dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Salah satunya adalah sistem yang akan digunakan di dalam sebuah lembaga tersebut.
Diantara faktor-faktor pendukung itu diantaranya adalah kurikulum. Pada dasarnya kurikulum merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Kesuksesan suatu pendidikan dapat dilihat dari kurikulum yang digunakan oleh sekolah. Faktor pendukung berikutnya adalah manajemen pendidikan. Manajemen sangat penting dalam suatu organisasi. Tanpa manajemen yang baik, maka sesuatu yang akan kita gapai tidak akan pernah tercapau dengan baik karena kelembagaan akan berjalan dengan baik, jika dikelola dengan baik.
Faktor pendukung yang ketiga adalah sarana dan prasarana. Sarana pembelajaran merupakan sesuatu yang secara tidak langsung berhubungan dengan proses belajar setiap hari tetapi mempengaruhi kondisi belajar. Prasarana sangat berkaitan dengan materi yang dibahas dan alat yang digunakan. Sekolah yang menerapkan full day school, diharapkan mampu memenuhi sarana penunjang kegiatan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa.
  Faktor pendukung yang terakhir dan yang paling penting dalam pendidikan dalam SDM. Dalm penerapan full day school, guru dituntut untuk selalu memperkaya pengetahuan dan keterampilan serta harus memperkaya diri dengan metode-metode pembelajaran yang sekiranya tidak membuat siswa bosan karena full day school adalah sekolah yang menuntut siswanya seharian penuh berada di sekolah.
Faktor lain yang signifikan untuk diperhatikan adalah masalah pendanaan. Dana memainkan peran dalam pendidikan. Keuangan merupakan masalah yang cukup mendasar di sekolah karena dana secara tidak langsung mempengaruhi kualitas sekolah terutama yang berkaitan dengan sarana dan prasarana serta sumber belajar yang lain.
2.4.2.      Faktor Penghambat Full day school
Faktor penghambat merupakan hal yang niscaya dalam proses pendidikan, tidak terkecuali pada penerapan full day school. Faktor yang menghambat penerapan sistem full day school diantaranya :
Pertama, keterbatasan sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana merupakan bagian dari pendidikan yang vital untuk menunjang keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu perlu adanya pengelolaan sarana dan prasarana yang baik untuk dapat dapat mewujudkan keberhasilan pendidikan. Banyak hambatan yang dihadapi sekolah dalam meningkatkan mutunya karena keterbatasan sarana dan prasarananya. Keterbatasan sarana dan prasarana dapat menghambat kemajuan sekolah.
Kedua, guru yang tidak profesional. Guru merupakan bagian penting dalam proses belajar mengajar. Keberlangsungan kegiatan belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh profesionalitas guru. Akan tetapi pada kenyataannya guru mengahadapi dua yang dapat menurunkan profesionalitas guru. Pertama, berkaitan dengan faktor dari dalam diri guru, meliputi pengetahuan, keterampilan, disiplin, upaya pribadi, dan kerukunan kerja. Kedua berkaitan dengan faktor dari luar yaitu berkaitan denagan pekerjaan, meliputi manajemen dan cara kerja yang baik, penghematan biaya dan ketepatan waktu. Kedua faktor tersebut dapat menjadi hambatan bagi pengembangan sekolah.
2.5.   Kelebihan dan Kelemahan Full Day School
2.5.1.      Kelebihan
Setiap sistem tidak mungkin ada yang sempurna, tentu memiliki keunggulan dan kekurangan termasuk sistem full day school. Diantara keunggulan sistem ini adalah
·      Anak anak akan mendapatkan metode pembelajaran yang bervariasi dan lain daripada sekolah dengan program reguler.
·      Orang tua tidak akan takut anak akan terkena pengaruh negatif karena untuk masuk ke sekolah tersebut biasanya dilakukan tes (segala macam tes) untuk menyaring anak-anak dengan kriteria khusus (IQ yang memadai, kepribadian yang baik dan motivasi belajar yang tinggi)
·      Sistem Full day school memiliki kuantitas waktu yang lebih panjang daripada sekolah biasa.
·      Guru dituntut lebih aktif dalam mengolah suasana belajar agar siswa tidak cepat bosan.
·      Meningkatkan gengsi orang tua yang memiliki orientasi terhadap hal-hal yang sifatnya prestisius.
·      Orang tua akan mempercayakan penuh anaknya ada sekolah saat ia berangkat ke kantor hingga ia pulang dari kantor
2.5.2.      Kelemahan
Sedangkan kelemahan dari sistem ini adalah:
·      Siswa akan cepat bosan dengan lingkungan sekolah
·      Lebih cepat stress
·      Mengurangi bersosialisasi dengan tetangga dan keluarga
·      Kurangnya waktu bermain
·      Anak-anak akan banyak kehilangan waktu dirumah dan belajar tentang hidup bersama keluarganya.

2.6.   Sekolah Yang Menerapkan Model Pembelajaran Full Day School
Beberapa lembaga yang mene­rapkan sistem pembelajaran fullday school antara lain;
1.      SMU Taruna Nusantara di Magelang
2.      SMU Plus Muthahhari di Bandung
3.      SMU Madania Parung Bogor
4.      Lembaga kursus bahasa asing di Pare Kediri
5.      UIN Malang (melalui program ma’had)  
6.      MAPK (Madrasah Aliyah Program Khusus).
Beberapa sekolah dasar yang menerapkan model pembelajaran full day school, sebagai berikut:
1.      SD Islam Terpadu Permata Bunda, Bawen Kabupaten. Semarang.





Ø Contoh Sekolah yang Menggunakan Model Pembelajaran Full Day School
Karakteristik Sistem Pembelajaran Full Day School SD Muhammadiyah 1 Bangkalan
Berprestasi & Berpekerti
Full day school mengandung arti system pendidikan yang menerapkan pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar sehari penuh dengan memadukan system pengajaran yang intensif yakni dengan menambah jam pelajaran untuk pendalaman materi pelajaran serta pengembangan diri dan kreatifitas yang meliputi ilmu umum dengan ilmu agama secara seimbang.
Karakteristik sistem pembelajaran Full Day School adalah Siswa selalu berprestasi dalam proses pembelajaran yang berkualitas yakni diharapkan akan terjadi perubahan positif dari setiap individu siswa sebagai hasil dari proses dan aktivitas dalam belajar, baik itu untuk ilmu umum dan ilmu agama agar bisa dijalankan secara seimbang.
1.    Karakteristik Sistem Pembelajaran Full Day School SD Muhammadiyah 1 Bangkalan
Full Day School (FDS) menerapkan suatu konsep dasar “Integrated-Activity” dan “Integrated-Curriculum”. Hal inilah yang membedakan dengan sekolah pada umumnya. Dalam FDS semua program dan kegiatan siswa di sekolah, baik belajar, bermain, beribadah dikemas dalam sebuah sistem pendidikan. Titik tekan pada FDS adalah siswa selalu berprestasi belajar dalam proses pembelajaran yang berkualitas yakni diharapkan akan terjadi perubahan positif dari setiap individu siswa sebagai hasil dari proses dan aktivitas dalam belajar. Adapun prestasi belajar yang dimaksud terletak pada tiga ranah, yaitu:
a) Prestasi yang bersifat kognitif
b) Prestasi yang bersifat afektif
c) Prestasi yang bersifat psikomotorik.
Pada prinsipnya, sekolah dasar Muhammadiyah 1 Bangkalan dengan FDS-nya hendak memadukan ilmu umum dan agama, sebagai jawaban atas kegagalan yang dilakukan sekolah umum dan lembaga pendidikan Islam lainnya. Sehingga, dalam praktiknya, sekolah dasar Muhammadiyah 1 Bangkalan melakukan pengembangan kurikulum dengan cara memadukan kurikulum pendidikan umum yang ada di Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), seperti pelajaran matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, IPA, IPS, dan lain-lain, serta kurikulum pendidikan agama Islam yang ada di Kementrian Agama (Kemenag), ditambah dengan kurikulum dari Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah (Majlis Dikdasmen).
Bangunan keilmuan yang dikembagkan oleh model ini tidak dilihat secara dikotomis melainkan dilihat secara padu dan utuh (integral). Paradigma yang dibangun adalah bahwa kebenaran di jagad ini tidak akan lengkap hanya didekati oleh kerja nalar dan observasi yang disebut dengan kebenaran ilmiah. Selain itu ada kebenaran intuitif dan juga kebenaran wahyu. Lembaga Pendidikan Sekolah Dasar Muhammadiyah 1 Bangkalan menginginkan penggalian kebenaran melalui sumber-sumber yang lebih komprehensif. Hal itu dapat ditemukan dengan cara memadukan berbagai sumber, baik yang bersifat ilmiah maupun yang dapat digali dari sumber kitab suci (al-Qur’an dan Hadits). Antara ilmu dan agama dilihat dan fungsikan secara padu, selain sama-sama untuk menggali kebenaran juga masaing-masing bersifat komplementer. Al-qur’an akan dapat dipahami secara lebih luas dan mendalam jika menyertakan ilmu dan sebaliknya ilmu akan berkembang jika mendapat inspirasi dari penuturan al-qur’an, yaitu bangunan keilmuan yang diharapkan mencerminkan sekolah Islam.
2.    Pengembangan Institusional Pendidikan Full Day School SD Muhammadiyah 1 Bangkalan
Untuk meminimalkan dampak negatif, upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan full day school bagi perkembangan anak antara lain:
Pengembangan kurikulum dan pengelolaan sesuai dengan alokasi waktu, kebutuhan, dan perkembangan anak agar FDS dapat mengoptimalkan perkembangan anak.
Kurikulum dewasa ini didasarkan pada pemahaman bahwa ide anak-anak dapat membentuk/membangun pengetahuan mereka sendiri. Untuk itu, program-program belajar harus terus mempersiapkan anak-anak dengan program kurikulum yang direncanakan dengan baik agar dapat memenuhi kebutuhan semua anak. Kurikulum untuk program belajar sekarang ini melakukan hal-hal berikut:
1) Memasukkan tujuan untuk dicapai dalam semua bidang, meliputi bidang sosial, emosi, kognitif, dan fisik supaya mampu mempersiapkan anak-anak unuk berperan sebagai warga Negara.
2) Menggarap perkembangan pengetahuan, pengertian, proses, dan keterampilan tidak sebagai fakta terpisah.
3) Berdasarkan sasaran nyata yang menantang, namun bisa dicapai.
4) Merefleksikan kebutuhan dan minat masing-masing anak dan kelompok.
5) Menghormati dan mendukung keragaman individu, budaya, dan bahasa.
6) Membangun pengetahuan di atas apa yang sudah diketahui anak dan mampu mengkonsolidasikan belajar mereka dan memajukan pencapaian konsep dan keterampilan baru
7) Memungkinkan integrasi di seluruh isi
8) Memenuhi standar yang diakui atas disiplin pelajaran yang relevan.
9) Melibatkan anak-anak secara aktif, sosial, fisik, dan mental.
10) Sangat lentur/fleksibel sehingga para guru dapat menyesuaikan diri dengan masing-masing anak atau kelompok.
Pembelajaran yang dilakukan pada FDS, waktu anak banyak terlibat dalam kelas yang bermuara pada produkktifitas yang tinggi dan siswa juga menunjukkan sikap yang lebih positif dan terhindar dari penyimpangan – penyimpangan karena keseharian berada di dalam kelas dan dalam pengawasan guru. Selain itu anak-anak jelas akan mendapatkan metode pembelajaran yang bervariasi dan lain daripada sekolah dengan program reguler, orang tua tidak akan merasa khawatir, karena anak-anak akan berada seharian di sekolah yang artinya sebagian besar waktu anak adalah untuk belajar, orang tua tidak akan takut anak akan terkena pengaruh negatif karena untuk masuk ke sekolah tersebut biasanya dilakukan tes (segala macam tes) untuk menyaring anak-anak dengan kriteria khusus (IQ yang memadai, kepribadian yang baik dan motivasi belajar yang tinggi), tentu saja akan meningkatkan gengsi orang tua yang memiliki orientasi terhadap hal-hal yang sifatnya prestisius, obsesi orang tua akan keberhasilan pendidikan anak (karena mereka berpikir jika anak mau pandai harus dicarikan sekolah yang bagus, dan sekolah bagus itu adalah yang mahal) memiliki peluang besar untuk tercapai. Mungkin banyak lagi hal-hal ’positif’ lainnya yang tidak tersebut di sini. Jelas kondisi-kondisi tersebut akan muncul dan menjadi pilihan yang menjanjikan bagi anak dan orang tua.
Secara utuh dapat dilihat bahwa pelaksanaan system pendidikan full day school di SD Muhammadiyah 1 Bangkalan mengarah pada beberapa tujuan, antara lain:

Untuk memberikan pengayaan dan pendalaman materi pelajaran yang telah ditetapkan oleh diknas sesuai jenjang pendidikan. Memberikan pengayaan pengalaman melalui pembiasaan-pembiasaan hidup yang baik untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melakukan pembinaan kejiwaan, mental dan moral peserta didik disamping mengasah otak agar terjadi keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani sehingga terbentuk kepribadian yang utuh. Pembinaan spiritual Intelegence peserta didik melalui penambahan materi-materi agama dan kegiatan keagamaan sebagai dasar dalam bersikap dan berperilaku.
DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR

2.1    Konsep Dasar Diagnostik Kesulitan Belajar
2.1.1   Pengertian Diagnosis
Diagnosis merupakan istilah teknis (terminology) yang kita adopsi dari bidang medis. Menurut Thorndike dan  Hagen (1995: 530-532), diagnosis dapat diartikan sebgai:
a.    Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, desease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama menegnai gejala-gejalanya (symptons).
b.    Studi yang sesama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial.
c.    Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang seksama atas gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal.
Dari ketiga pengertian tersebut diatas, dapat kita maklumi bahwa di dalam konsep diagnosis, secara implisit telah tersimpul pula konsep pragnosisnya. Dengan demikian, di dalam pekerjaan diagnositik bukan hanya sekedar mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan, memungkinkan, dan menyarankan tindakan pemecahannya.
2.1.2   Pengertian Kesulitan Belajar
Burton (1952: 622-624) mengidentifikasi seorang siswa kasus dapat dipandang atau dapat diduga mengalami kesulitan belajar apabila yang bersangkutan menunjukkan kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Kegagalan belajar didefinisikan oleh Burton sebagai berikut:
a.    Siswa dikatakan gagal apabila dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan minimal dalam pelajaran tertentu, seperti yang telah ditetapkan oleh orang dewasa atau guru. Dalam konteks sistem pendidikan di Indonesia angka nilai batas lulus itu ialah angka 6 atau 60 atau C (60% dari tingkat ukuran yang diharapkan atau ideal). Kasus siswa semacam ini dapat digolongkan ke dalam lower group.
b.    Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat menegrjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya: intelegensi, bakat). Ia diramalkan akan dapat mengerjakannya atau mencapai suatu prestasi, namun ternyata tidak sesuai dengan kemampuannya. Kasus siswa ini dapat digolongkan ke dalam under archievers.
c.    Siswa dikatakan gagal apabila siswa yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial sesuai dengan pola organismenya pada fase perkembangan tertentu, seperti yang berlaku bagi kelompok sosial dan usia yang bersangkutan. Kasus siswa bersangkutan dapat dikategorikan ke dalam slow learners.
d.   Siswa dikatakan gaggal kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya. Kasus siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learners atau belum matang sehingga mungkin harus menjadi peluang pelajaran.
Dari keempat definisi diatas, dapat kita simpulkan bahwa seorang siswa diduga mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu (berdasarkan ukuran kriteria keberhasilan seperti yang dinyatakan dalam TIK atau ukuran tingkat kapasitas atau kemampuan dalam program pelajaran time allowed dan atau tingkat perkembangannya).
Dalam hasil belajar, sudah tentu mencakup aspek-aspek substansial-material, fungsional-struktural, dan behavioral atau yang mencakup segi-segi kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan batasan waktu yang dimaksud, dapat berati satu periode pendidikan atau fase perkembangan, satu tingkat atau kelas tahun pelajaran, semester atau triwulan, mingguan bahkan jam pelajaran tertentu.
2.1.3   Diagnostik Kesulitan Belajar
Dengan mengaitkan kedua pengertian dasar di atas (butir a dan b), kita dapat mendefinisikan diagnostik kesulitan belajar sebagai suatu proses upaya untuk memahami jenis dan karakteristik serta latar belakang kesulitan-kesulitan belajar dengan menghimpun dan mempergunakan berbagai data/informasi selengkap dan seobjektif mungkin sehingga memungkinkan untuk mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternatif kemungkinan pemecahannya.
2.2    Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar
Secara umum langkah-langkah pelaksanaan diagnostik kesulitan belajar selaras dengan langkah-langkah pelaksanaan bimbingan belajar. Namun secara khusus, langkah-langkah diagnostik kesuliatn belajar itu dapat diperinci lebih lanjut, megingat pada hakikatnya hanya merupakan salah satu bagaian atau jenis layanan bimbingan belajar.
Ross dan Stanley (1956:332-341), tahapan-tahapan diagnosis itu sebagai berikut:

5. How can errors be prevented?
Bagaimana kelemahan itu dapat dicegah?


4. what remedies are suggested?
Penyembuhan-penyembuhan apakah yang disarankan?


3. why do the errors occur?
Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi?


2. where are the errors located
Di manakah kelemahan-kelemahan itu dapat dilokalisasikan?

1.who are the pupils having trouble?
Siapa-siapa siswa yang mengalami gangguan

Burton (1952: 640-652) menggariskan agak lain, yaitu berdasarkan kepada teknik dan instrumen yang digunakan dalam pelaksanannya sebagai berikut:
1)      General diagnosis
Pada tahap ini lazim dipergunakan tes baku, seperti yang dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar. Sasarannya, untuk menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu.
2)      Analystic diagnostic
Pada tahap ini yang lazimnya digunakan ialah tes diagnostok. Sasarnnya, untuk mengetahui dimana letak kelemahan tersebut.
3)      Psychoogical diagnosis
Pada tahap ini teknik pendekatan dan instrumen yang digunakan antara lain:
a.       Observasi
b.      Analisis karya tulis
c.       Analisis proses dan respons lisan
d.      Analisis berbagai catatan objektif
e.       Wawancara
f.       Pendekatan laboratoris dan klinis
g.      Studi kasus
Sebelum melaksanakan pengajaran remedial, guru terlebih dahulu perlu menegakkan diagnosis kesulitan belajar, yaitu menentukan jenis dan penyebab kesulitan serta alternatif strategi pengajaran remedial yang efektif dan efisien. Diganosis kesulitan belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar. Sebagai prosedur maka diagnosis kesulitan belajar terdiri dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis. Agar pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar dapat menghasilkan sesuai dengan keinginan, maka taat pada prosedur itu merupakan suatu keharusan.



Beberapa langkah pokok/prosedur dan teknik pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar adalah sebagai berikut:
1.        Identifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar
Beberapa langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan sebagai berikut:
  1. Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam suatu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan dalam belajar baik yang sifatnya umum maupun sifatnya lebih khusus dalam bidang studi tertentu.
  2. Teknik yang dapat ditempuh bermacam-macam antara lain dengan:
1)        Meneliti nilai ujian.
2)        Menganalisis hasil ujian dengan melihat tipe kesalahan yang dibuatnya.
3)        Observasi pada saat siswa dalam proses belajar mengajar.
4)        Memeriksa buku catatan pribadi yang ada pada petugas bimbingan.
5)        Melaksanakan sosiometris untuk melihat hubungan sosial psikologis yang terdapat pada para siswa.
2.        Melokalisasikan Letaknya Kesulitan (Permasalahan)
Setelah kita menemukan kelas atau individu siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, maka pesoalan selanjutnya yang perlu kita telaah, ialah (1) dalam mata pelajaran (bidang studi) manakah kesulitan itu terjadi, (2) pada kawasan tujuan belajar (aspek prilaku) yang manakah ada kesulitan itu terjadi, (3) pada bagian (ruang lingkup bahan) yang manakah kesulitan itu terjadi, dan (4) dalam segi kesulitan belajar manakah kesulitan itu terjadi. Untuk itu dilakukan analisis letak kesulitan belajar siswa dengan cara sebagai berikut:
a.    Mendekati kesulitan belajar pada bidang studi tertentu. Dapat dilakukan dengan cara membandingkan angka nilai prestasi individu siswa untuk semua bidang studi.untuk membuat jelas hal ini sebaiknya dibuat grafik yang berisi semua mata pelajaran/bidang studi lengkap dengan nilainya.  
b.    Mendeteksi pada kawasan tujuan belajar dan bahagian ruang lingkup bahan pelajaran dimanakah kesulitan terjadi. Dapat dilakukan denganmenganalisis jawaban siswa terhadap soal-soal setiap mata pelajaran. Dari jawaban itu dapat diketahui pada bagiam mana siswa mendapat kesulitan.
c.    Analisis terhadap catatan mengenai proses belajar. Analisis yang dimaksud disini adalah analisis terhadap kemampuan menyelesaikan tugas-tugas, soal-soal saat proses belajar berlangsung, kehadiran atau ketidakhadiran saat proses belajar berlangsung untuk setiap mata pelajaran, penyesuaian diri dengan temannya.
3.        Lokalisasi jenis faktor dan sifat yang menyebabkan siswa mengalami berbagai kesulitan (Diagnosis)
Pada garis besarnya sebab kesulitan dapat timbul dari dua hal yaitu:
a.       Faktor internal yaitu faktor yang berada dan terletak pada diri siswa itu sendiri. Hal ini antara lain disebabkan oleh:
1)        Kelemahan mental faktor kecerdasan, intelegensia, atau kecakapan/bakat: khusus tertentu yang dapat diketahui melalui test tertentu.
2)        Kelemahan fisik, panca indera, syaraf, kecacatan, kaena sakit dan sebagainya.
3)        Gangguan, yang bersifat emosional.
4)        Sikap dan kebiasaan yang  salah dalam mempelajari bahan pelajaran bahan  pelajaran tertentu.
5)        Belum memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar pelajaran-pelajaran tertentu.
b.      Faktor eksternal, yaitu faktor yang datang dari luar yang menyebabkan timbulnya hambatan atau kesulitan. Faktor eksternal antara lain meliputi:
1)        Situasi atau proses belajar mengajar yang tidak merangsang siswa untuk aktif antisifatif (kurang kemungkinannya siswa belajar secara aktif”student aktif learning”).
2)        Sifat kurikulum yang kuran fleksibel.
3)        Ketidak seragaman pola dan standar administrasi.
4)        Beban belajar yang terlampau berat.
5)        Metode mengajar yang kurang memadai.
6)        Sering pindah sekolah.
7)        Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar mengajar.
8)        Situasi rumah yang kuran mendorong untuk melakukan aktivitas belajar.
4.        Perkiraan kemungkinan bantuan (Prognosis)
Apabila kita telaah tentang letak kesulitan yang dialami siswa, jenis dan sifat kesulitan, latar belakangnya, faktor-faktor yang menyebabkannya, maka kita akan dapat memperkirakan beberapa hal berikut:
a.    Apakah siswa tersebut masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya atau tidak.
b.    Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami siswa tertentu.
c.    Kapan dan dimana pertolongan itu dapat di berikan.
d.   Siapa yang dapat memberikan pertolongan.
e.    Bagaimana cara menolong siswa agar dapat dilaksanakan secara efektif.
f.     Siapa sajakah yang harus dilibatsertakan dalam menolong siswa tersebut.
5.        Penetapan kemungkinan cara mengatasinya (Referal)
Pada langkah ini perlu menyusun suatu rencana  atau alternatif-alternatif rencana yang akan dilaksanakan untuk membantu peserta didik/siswa mengatasi masalah kesulitan belajarnya. Rencana ini hendaknya berisi:
a.    Cara-cara yang harus ditempuh untuk menyembuhkan kesulitan yang dialami siswa tersebut.
b.    Menjaga agar kesulitan yang serupa jangan sampai terulang.
c.    Ada baiknya rencana ini dapat didiskusikan dan dikomunikasikan dengan pihak-pihak yang dipandang berkepentingan kelak diperkirakan akan terlibat dalam pemberian bantuan kepada yang bersangkutan seperti penasehat akademik, guru, orang tua, pembimbing penyuluh dan ahli lain. Secara khusus kegiatan ini hanya dapat diberikan oleh guru mata kuliah yang tahu persis tentang berbagai kesulitan yang bisa di alami siswa dalam mata pelajarannya. Rencana ini harus berisi tentang:  
1)        Jadwal kegiatan pemberian bantuan.
2)        Cara bantuan diberikan.
3)        Tempat.
d.   Petugas yang akan memberikan bantuan.
e.    Tindak lanjut bantuan.
6.        Tindak lanjut
Kegiatan tindak lanjut adalah kegiatan melakukan bantuan, bimbingan, arahan atau pengajaran paling tepat dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar, cara ini dapat berupa :
a.    Melaksanakan bantuan berupa melaksanakan pengajaran remidial pada mata pelajaran yang menjadi masalah bagi siswa tertentu. Remidial dapat dilakukan oleh guru, atau pihak lain yang dianggap dapat menciptakan suasana belajar siswa yang penuh motivasi.
b.    Membagi tugas dan peranan kepada orang-orang tertentu dalam memberikan bantuan pada siswa.
c.    Senantiasa mengecek dan ricek kemajuan terhadap siswa yang bermasalah baik pamahaman mereka terhadap bantuan yang diberikan berupa bahan, maupun mencek bahan tepat guna program remedial yang dilakukan untuk setiap saat diadakan revisi dan improvisasi.
d.   Mentransfer atau mengirim (roferral case) siswa yang menurut perkiraan tidak dapat ditangani oleh guru kepada orang atau lembaga lain (psikologi, psikiater, lembaga bimbingan, lembaga psikoligi dan sebagainya) yang diperkirakan akan lebih dapat dan lebih tepat membantu siswa tersebut.


2.3    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar
1.    Faktor Internal
Faktor-faktor yang berasal dalam diri siswa itu sendiri. Hal ini antara lain, disebabkan oleh:
a.    Kelemahan fisik, pancaindera, syaraf, cacat, sakit, dan sebagainya.
b.    Kelemahan mental: faktor kecerdasan, seperti inteligensi dan bakat yang dapat diketahui dengan tes psikologis.
c.    Gangguan-gangguan yang bersifat emosional.
d.   Sikap kebiasaan yang salah dalam mempelajari materi pelajaran.
e.    Belum memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar yang dibutuhkan untuk memahami materi pelajaran lebih lanjut.
2.    Faktor Eksternal
Faktor yang berasal dari luar diri siswa, sebagai penyebab kesulitan belajar, antara lain:
a.    Situasi  atau proses belajar mengajar yang tidak merangsang siswa untuk aktif antisipatif (kurang memungkinkan siswa untuk belajar secara aktif “student active learning”).
b.    Sifat kurikulum yang kurang fleksibel.
c.    Beban studi yang terlampau berat.
d.   Metode mengajar yang kurang menarik.
e.    Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar.
f.     Situasi rumah yang kurang kondusif untuk belajar.
2.4    Strategi atau Upaya Meningkatkan
Untuk mengatasi kesulitan belajar bagi siswa, guru perlu memperhatikan hal hal yang melatarbelakangi siswa mengalami kesulitan belajar. Namun dalam praktiknya guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswa hanya sekedar mengulangi materi yang pernah diajarkan tetapi belum dikuasai siswa dan tidak melihat penyebab utama siswa belum menguasai materi pelajaran itu. Kondisi ini berakibat pada pemecahan kesulitan belajar anak tidak dapat terselesaikan dengan baik. Salah satu langkah awal dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut adalah dengan mencari penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa mencari solusi pemecahan yang tepat dan mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa tersebut. Salah satu cara meningkatkan hasil belajar adalah mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh siswa adalah melalui:
1.        Pemberian bimbingan belajar
Bimbingan belajar adalah  proses bantuan yang diberikan kepada individu (siswa) agar dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam belajar. Sehingga setelah melalui proses perubahan belajar, mereka dapat mencapai hasil belajar yang optimal sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.
2.        Mengajak dan menarik minat siswa untuk belajar aktif
Menurut John Holt, proses belajar akan meningkat jika siswa diminta untuk melakukan hal hal berikut:
a.       Mengemukakan kembali informasi
b.      Memberikan contohnya
c.       Mengenalinya dalam bermacam bentuk dan situasi
d.      Menggunakan dengan beragam cara
e.       Memprediksi sejumlah konsekwensinya
f.       Menyebutkan kebalikan
Ketika siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran maka siswa dapat mengaitkan apa yang diajarkan kepadanya dengan apa yang telah diketahuinya sebelumnya. Guru hendaknya menggunakan metode pembelajaran aktif maupun mix methode  untuk menarik  perhatian siswa agar mau ikut serta dan aktif dalam proses pembelajaran.
3.        Memberikan perhatian dan menciptakan suasana yang menyenangkan
Para pendidik terutama orang tua dan para guru supaya memberikan perhatian yang cukup kepada anak didiknya, sehingga kekurangan atau kelemahan-kelamahan mereka secepatnya diketahui dan diatasi dengan berkonsultasi sesuia denga keluhan-keluhan yang ada kepada ahli-ahli yang bersangkutan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang dapat mempelajari suatu mata pelajaran dengan baik akan menyenangi mata pelajaran tersebut. Begitu juga sebaliknya, anak yang tidak menyenangi suatu mata pelajaran biasanya tidak atau kurang berhasil mempelajari mata pelajaran tersebut. Karenanya, tugas utama yang sangat menentukan bagi seorang guru adalah bagaimana membantu siswanya sehingga mereka dapat mempelajari setiap materi dengan baik.
4.        Memberikan sarana dan prasarana yang memadai
Sarana dan prasarana sangatlah dibutuhkan sebagai media pembelajaran sehingga ketika guru menjelaskan materi, guru dapat sekaligus mempraktekan di hadapan siswa, dan siswa dapat secara langsung melihat dan mencobanya. Dengan demikian maka kebutuhan khusus seorang pelajar dapat terpenuhi. Berikut tipe-tipe khusus pelajar, yaitu:
a.       Bertipe visual, akan lebih cepat mempelajari bahan-bahan yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik, gambar.
b.      Bertipe auditif mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk suara.
c.       Bertipe motorik, mudah mempelajari yang berupa tulisan-tulisan, ataupun gerakan dan sulit mempelajari bahan yang berupa suara dan penglihatan.



 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management