UNNES
Universitas Negeri Semarang(Unnes) adalah universitas konservasi. Konservasi memang telah menjadi visi kami. Lengkapnya, universitas konservasi bertaraf internasional yang sehat, unggul, dan sejahtera.
UNNES
Universitas Negeri Semarang(Unnes) adalah universitas konservasi. Konservasi memang telah menjadi visi kami. Lengkapnya, universitas konservasi bertaraf internasional yang sehat, unggul, dan sejahtera.
UNNES
Universitas Negeri Semarang(Unnes) adalah universitas konservasi. Konservasi memang telah menjadi visi kami. Lengkapnya, universitas konservasi bertaraf internasional yang sehat, unggul, dan sejahtera.
Selasa, 30 Desember 2014
SEBERKAS
CAHAYA LAMPION
Berkelanaku
keujung dunia, menapaki sekilas masa yang begitu suram. Lelah kaki ini
melangkah demi menghapus semua masa lalu yang membuatku tenggelam dalam gelap.
Begitu banyak lampion mulai menemani setiap langkah ini, berusaha bangkit dan
berdiri tegak menghadap langit.
Pagi yang dingin
menusuk tulangku dan membangunkanku dalam mimpi dan tiba-tiba terdengar suara
dari arah dapur yang mengejutkan aku.
“praak” suara gelas pecah
dari dalam dapur.
“ma?” teriakku dari
kamar seraya mencari tahu apa yang terjadi dibawah. Tak ada suara menyahut dari
dalam dapur semakin penasaran aku turun dan menemukan hal yang begitu
mengejutkan.
“papa” kagetku bukan
main.
“apa yang papa lakukan?
Kenapa papa selalu marah? “teriakku kepada papa
“kamu anak kecil tahu
apa? Sukanya hanya minta duit aja sudah berani ngomong kamu?” bentak papa.
Suasana hening
seketika, hanya suara tangis mama yang terdengar sayu-sayu seraya mengiringi
kepergian papa yang meninggalkan kami.
Suasana
seperti inilah yang tak pernah kuinginkan apalagi terpikirkan pun tak pernah.
Keluargaku memang keluarga yang dapat dikatakan mampu, akupun tak pernah
kekurangan suatu apapun selalu berkecukupan bahkan dapat dikatakan berlebihan.
Aku tinggal dirumah ini bersama Papa, Mama dan kedua kakakku. Dulu memang kami
keluarga yang bahagia tetapi setelah papa dipindahkan tugas keluar kota banyak
kejadian yang membuat keluarga kami berantakan seperti ini. Papaku memang salah satu seorang pengabdi
negara.
“Lia...Lia.. bangun”
teriak teman sekamarku yang sangat berisik pagi ini.
“heemt” jawabku malas.
“kamu kuliah ndak si..?
tanyanya. “ iya-iya aku kuliah kok, bentar lagi bangun” jawabku sambil menarik
selimut lagi.
“tadi malam kamu pulang
jam berapa si?”
“ hemt jam 2 va, kenapa
si?” jawabku malas.
“hah jam 2? Gile lu
ngapain aja si jam 2 baru pulang? Sama Doni juga?” tanya Eva
“iyalah sama siapa
lagi, udah ah gue mandi dulu”. Jawabku.
Aku
seperti memiliki dunia sendiri saat ini. Aku merasa sangat nyaman saat jauh
dari mereka orang tuaku, aku merasa sangat bebas seperti burung yang hanya
mengikuti arus. Aku tak peduli dengan apa yang sekarang terjadi, kuliahku,
temanku, dan semua yang ada disekitarku. Aku tak pernah peduli dengan omongan mereka
yang selalu memakiku dengan caciannya sebagai seorang pelacurlah, pemakailah
dan semuanya mereka bilang sesuka hati mereka.
Mereka
hanya bisa bicara tak mengerti apa yang terjadi sebelumnya dalam hidupku. Masa
lalu yang kelam dan semua cobaan yang aku hadapi. Mereka hanya melihat luarnya
tanpa mempertimbangkan dalamnya, tapi aku tak peduli dengan semuanya aku selalu
tegar dan mulai bersikap biasa saat mereka selalu menatapku dengan sinisnya.
Hanya Eva yang selalu menyemangatiku dan membantuku. Aku mengenal Eva saat dia
menemukanku seperti orang glandangan dijalan, dia mengangkatku sebagai saudara
dan membantuku untuk kuliah disini. Dia adalah lampionku saat ini, walaupun
keadaannya tak begitu baik, tetapi dia mampu mengubahku menjadi wanita yang
sangat luar biasa saat ini.
Dahulu
aku adalah wanita malam yang selalu pulang dini hari dan tak pernah pulang
kerumah karena memang aku benci dengan keadaan rumah. Aku pernah membawa
seorang pria kekos bergantian tiap malam, hingga banyak anak kos yang tak suka
padaku hingga mereka mengusirku keluar. Disaat itulah datang sinar lampion
kecil dengan langkah mantap menujuku tanpa berpikir panjang dia membantuku
keluar dari dunia gelap ini.
“ Lia kalu bisa kamu
jangan pulang dini hari lagi, aku khawatir”. Pinta Eva
“iya sayang aku nggak
akan pulang dini hari lagi, janji karena tadi malam kan ada shift sampai pagi”.
Jelasku
“sekarang kamu makan
dulu terus baru berangkat”. Ajak Eva.
“siap bos..hehehehe”
jawabku
Kami berdua pun makan
bersama dan pergi ke kampus. Hari ini Eva kuliah samapi sore dan mau tak mau
aku harus menunggunya sampai sore. Aku pun duduk ditaman dekat kantin tiba-tiba
Andy datang menemuiku. Andy adalah mantan pacar Eva.
“hay Lia, apa kabar?”
sapa Andy
“ hay juga , gue
baik-baik saja, gimana lu?” tanyaku
“baik kok, eh
ngomong-ngomong lu masih kerja nggak? Gue ada tawaran bagus ni pemotretan di
studio kakak gue, gimana?” tanya Andy
Aku
seketika bingung. Aku sudah berjanji dengan Eva untuk mengambil job-job pemotetran
seperti itu, karena Eva takut aku akan terjatuh lagi kedalam lubang yang sama,
semua orang tahu Andy adalah seorang yang selalu mencari wanita-wanita untuk
diperkerjakan sebagi model sexy. Aku bingung karena aku pun masih butuh uang
untuk menghidupi diriku sendiri dan tak bergantung dengan Eva. Akupun menerima
tawaran Andy, dengan diam-diam aku melakuan pekerjaan yang dulu pernah aku
lakukan, selain sebagai model akupun juga memjadi penari di bar. Semua
kulakukan agar tidak menyusahkan Eva. Aku tahu lama-kelmaan Eva akan mengetahui
apa yang aku lakukan, dan aku sudah siap untuk kehilangan kesetiaannya.
“Lia, ada klien tuh”
datang Andy memanggilku
“oke, gue siap”
jawabku, “maaflan aku Eva, aku menyayangimu” kataku dalam hati.
Aku
tak tahu bahwa klien yang dibawa Andy adalah ternyata ayah Eva, yang seorang
pengabdi negara. Kini kisah keluargaku terulang kembali dan diperankan olehku.
Aku tak tahu sejak kapan Eva mengikuti dan akhirnyapun mengetahui apa yang
selama ini aku lakukan. Aku sudah siap dengan semua yang kan terjadi. Aku
merebut kebahagiaan keluarnya. Aku seperti benalu baginya, aku sangat muak
dengan tubuh dan diri ini yang tak bisa menahan kesenangan yang selalu
membuatku luka. Bukan maksudku balas dendam dengan keadaan yang membuatku seperti ini, membuat
berantakan keluargaku. Aku tak mau seperti ini.
“Eva maafin aku”
gemetar aku mengucapkannya dengan isak tangisku menahan.
“ apa yang terjadi,
kenapa kau lakukan ini padaku?” tanya Eva dengan gemetar tak mengerti
“aku minta maaf va,
buka maksudku untuk membuatmu seperti ini” jelasku
“ maafkan aku juga Lia,
aku yang membuatmu seperti ini” jelasnya menangis sambil memelukku.
“maksudmu?” tanyaku
bingung.
“aku minta maaf, dan
lupakan semua” jelasnya dan membuatku bingung, apa yang sebernanya terjadi.
Kini
sinar lampion itu semakin terang semakin banyak, membuatku dapat melangkah
pasti kedepan, walapun aku tahu bahwa Eva adalah salah satu orang yang membuat
keluargaku rusak dan membuatku jatuh kelubang yang paling dasar, namun dia
mampu mengangkatku dengan penuh semangat dan seperti lampion yang terang dan
mampu membawaku kedunia yang lebih terang dan indah dengan jutaan lampion
disampingku.
Jumat, 26 Desember 2014
FULL DAY SCHOOL
Pengertian
Full Day School
Menurut etimologi, kata
full day school berasal dari Bahasa Inggris. Terdiri dari kata full mengandung
arti penuh, dan day artinya hari. Maka full day mengandung
arti sehari penuh. Full day juga berarti hari sibuk. Sedangkan school
artinya sekolah. Jadi, arti dari full day school adalah sekolah
sepanjang hari atau proses belajar mengajar yang dilakukan mulai pukul
06.45-15.00. Dengan demikian, sekolah dapat mengatur jadwal pelajaran dengan leluasa,
disesuaikan dengan bobot mata pelajaran dan ditambah dengan pendalaman materi.
Sedangkan menurut terminologi atau arti secara luas, Full
day school mengandung arti system pendidikan yang menerapkan pembelajaran
atau kegiatan belajar mengajar sehari penuh dengan memadukan system pengajaran
yang intensif yakni dengan menambah jam pelajaran untuk pendalaman materi
pelajaran serta pengembangan diri dan kreatifitas. Pelaksanaan
pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah mulai pagi hingga sore hari, secara
rutin sesuai dengan program pada tiap jenjang pendidikannya. Dalam full day
school, lembaga bebas mengatur jadwal mata pelajaran sendiri dengan tetap
mengacu pada standar nasional alokasi waktu sebagai standar minimal dan sesuai
bobot mata pelajaran, ditambah dengan model-model pendalamannya. Jadi
yang terpenting dalam full day school adalah pengaturan
jadwal mata pelajaran. Program ini banyak ditemukan pada sekolah tingkat dasar
SD/MI swasta yang berstatus unggulan. Biasanya, sekolah tersebut tarifnya mahal
dan FDS bagian dari program favorit yang “dijual” pihak sekolah.
Jika dilihat dari makna
dan pelaksanaannya, full day school sebagian waktunya digunakan untuk
program pelajaran yang suasananya informal, tidak kaku, menyenangkan bagi siswa
dan membutuhkan kreativitas dan inovasi dari guru. Dalam hal ini, Salim
berrpendapat berdasarkan hasil penelitian bahwa belajar efektif bagi anak itu
hanya 3-4 jam sehari (dalam suasana formal) dan 7-8 jam sehari (dalam suasana
informal).
Metode pembelajaran full
day school tidak melulu dilakukan di dalam kelas, namun siswa diberi
kebebasan untuk memilih tempat belajar. Artinya siswa bisa belajar dimana saja
seperti halaman, perpustakaan, laboratorium dan lain-lain.
2.2.
Latar Belakang Munculnya Full Day Schooll
Full day
school
pada awalnya muncul pada awal tahun 1980-an di Amerika Serikat. Pada waktu itu
full day school dilaksanakan untuk jenjang sekolahTaman Kanak-kanan dan
selanjutnya meluas pada jenjang yang lebih tinggi mulai dari SD sampai dengan
menengah atas.
Ketertarikan
para orang tua untuk memasukkan anaknya ke full day school dilatarbelakangi
oleh beberapa hal, yaitu karena semakin banyaknya kaum ibu yang bekerja di luar
rumah dan mereka banyak yang memiliki anak berusia di bawah 6 tahun,
meningkatnya jumlah anak-anak usia prasekolah yang ditampung di sekolah-sekolah
milik public (masyarakat umum), meningkatnya pengaruh televisi dan mobilitas
para orang tua, serta kemajuan dan kemodernan yang mulai berkembang di segala
aspek kehidupan. Dengan memasukkan anak mereka ke fullday school, mereka
berharap dapat memperbaiki nilai akademik anak-anak mereka sebagai persiapan
untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya dengan sukses, juga masalah-masalah
tersebut di atas dapat teratasi. Dan dalam hasil penelitian ini disebutkan
bahwa anak yang menempuh pendidikan di fullday school terbukti tampil
lebih baik dalam mengikuti setiap mata pelajaran dan menunjukkan keuntungan
yang cukup signifikan.
Adapun
munculnya system pendidikan full day school di Indonesia diawali dengan
menjamurnya istilah sekolah unggulan sekitar tahun 1990-an, yang banyak
dipelopori oleh sekolah-sekolah swasta termasuk sekolah-sekolah yang berlabel
Islam. Dalam pengertian yang ideal, sekolah unggul adalah sekolah yang fokus
pada kualitas proses pembelajaran, bukan pada kualitas input siswanya. Kualitas
proses pembelajaran bergantung pada system pembelajarannya. Namun faktanya
sekolah unggulan biasanya ditandai dengan biaya yang mahal, fasilitas yang
lengkap dan serba mewah, elit, lain daripada yang lain, serta tenaga-tenaga
pengajar yang “professional”, walaupun keadaan ini sebenarnya tidak menjamin
kualitas pendidikan yang dihasilkan. Term unggulan ini yang kemudian
dikembangkan oleh para pengelola di sekolah-sekolah menjadi bentuk yang lebih
beragam dan menjadi trade mark, diantaranya adalah fullday school
dan sekolah terpadu.
2.3.
Sistem Pembelajaran Full Day School
Full Day
School (FDS)
menerapkan suatu konsep dasar “Integrated-Activity” dan
“Integrated-Curriculum”. Hal inilah yang membedakan dengan sekolah pada
umumnya. Dalam FDS semua program dan kegiatan siswa di sekolah, baik belajar,
bermain, beribadah dikemas dalam sebuah sistem pendidikan. Titik tekan pada FDS
adalah siswa selalu berprestasi belajar dalam proses pembelajaran yang
berkualitas yakni diharapkan akan terjadi perubahan positif dari setiap
individu siswa sebagai hasil dari proses dan aktivitas dalam belajar. Adapun
prestasi belajar yang dimaksud terletak pada tiga ranah, yaitu:
1) Prestasi
yang bersifat kognitif
Adapun
prestasi yang bersifat kognitif seperti kemampuan siswa dalam mengingat,
memahami, menerapkan, mengamati, menganalisa, membuat analisa dan lain
sebagianya. Konkritnya, siswa dapat menyebutkan dan menguraikan pelajaran
minggu lalu, berarti siswa tersebut sudah dapat dianggap memiliki prestasi yang
bersifat kognitif.
2)
Prestasi yang bersifat afektif
Siswa
dapat dianggap memiliki prestasi yang bersifat afektif, jika ia sudah bisa
bersikap untuk menghargai, serta dapat menerima dan menolak terhadap suatu
pernyataan dan permasalahan yang sedang mereka hadapi.
3) Prestasi
yang bersifat psikomotorik
Yang
termasuk prestasi yang bersifat psikomotorik yaitu kecakapan eksperimen verbal
dan nonverbal, keterampilan bertindak dan gerak. Misalnya seorang siswa
menerima pelajaran tentang adab sopan santun kepada orang lain, khususnya
kepada orang tuanya, maka si anak sudah dianggap mampu mengaplikasikannya
dalam kehidupannya.
Sebelum
kita membahas tentang sistem pembelajaran FDS, tentunya kita perlu mengetahui
tentang makna sistem pembelajaran itu sendiri. Sistem adalah seperangkat elemen
yang saling berhubungan satu sama lain. Adapun sistem pembelajaran adalah suatu
sistem karena merupakan perpaduan berbagai elemen yang berhubungan satu sama
lain. Tujuannya agar siswa belajar dan berhasil, yaitu bertambah pengetahuan
dan keterampilan serta memiliki sikap benar. Dari sistem pembelajaran inilah
akan menghasilkan sejumlah siswa dan lulusan yang telah meningkat pengetahuan
dan keterampilannya dan berubah sikapnya menjadi lebih baik.
Adapun
proses inti sistem pembelajaran FDS antara lain:
1)
Proses pembelajaran yang berlangsung secara aktif, kreatif, tranformatif
sekaligus intensif. System persekolahan dan pola fullday school mengindikasikan
proses pembelajaran yang aktif dalam artian mengoptimalisasikan seluruh potensi
untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal baik dalam pemanfaatan sarana
dan prasarana di lembaga dan mewujudkan proses pembelajaran yang kondusif demi
pengembangan potensi siswa yang seimbang.
2)
Proses pembelajaran yang dilakukan selama aktif sehari penuh tidak memforsir
siswa pada pengkajian, penelaahan yang terlalu menjenuhkan. Akan tetapi, yang
difokuskan adalah system relaksasinya yang santai dan lepas dari jadwal yang
membosankan.
2.4.
Faktor Penunjang dan Penghambat Full Day
School
2.4.1.
Faktor Penunjang Full Day School
Setiap sistem
pembelajaran tentu memiliki kelebihan (faktor penunjang) dan kelemahan (faktor
penghambat) dalam penerapannya, tak terkecuali sistem full day school.
Adapun faktor penunjang dari pelaksanaan sistem ini adalah setiap sekolah
memiliki tujuan yang ingin dicapai, tentunya pada tingkat kelembagaan. Untuk
menuju kearah tersebut, diperlukan berbagai kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Salah
satunya adalah sistem yang akan digunakan di dalam sebuah lembaga tersebut.
Diantara faktor-faktor
pendukung itu diantaranya adalah kurikulum. Pada dasarnya kurikulum merupakan
suatu alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Kesuksesan suatu pendidikan dapat
dilihat dari kurikulum yang digunakan oleh sekolah. Faktor pendukung berikutnya
adalah manajemen pendidikan. Manajemen sangat penting dalam suatu organisasi.
Tanpa manajemen yang baik, maka sesuatu yang akan kita gapai tidak akan pernah
tercapau dengan baik karena kelembagaan akan berjalan dengan baik, jika
dikelola dengan baik.
Faktor pendukung yang
ketiga adalah sarana dan prasarana. Sarana pembelajaran merupakan sesuatu yang
secara tidak langsung berhubungan dengan proses belajar setiap hari tetapi
mempengaruhi kondisi belajar. Prasarana sangat berkaitan dengan materi yang
dibahas dan alat yang digunakan. Sekolah yang menerapkan full day school,
diharapkan mampu memenuhi sarana penunjang kegiatan pembelajaran yang relevan
dengan kebutuhan siswa.
Faktor pendukung yang terakhir dan yang
paling penting dalam pendidikan dalam SDM. Dalm penerapan full day school,
guru dituntut untuk selalu memperkaya pengetahuan dan keterampilan serta harus
memperkaya diri dengan metode-metode pembelajaran yang sekiranya tidak membuat
siswa bosan karena full day school adalah sekolah yang menuntut siswanya
seharian penuh berada di sekolah.
Faktor lain yang
signifikan untuk diperhatikan adalah masalah pendanaan. Dana memainkan peran
dalam pendidikan. Keuangan merupakan masalah yang cukup mendasar di sekolah
karena dana secara tidak langsung mempengaruhi kualitas sekolah terutama yang
berkaitan dengan sarana dan prasarana serta sumber belajar yang lain.
2.4.2.
Faktor Penghambat Full
day school
Faktor penghambat
merupakan hal yang niscaya dalam proses pendidikan, tidak terkecuali pada
penerapan full day school. Faktor yang menghambat penerapan sistem full
day school diantaranya :
Pertama,
keterbatasan sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana merupakan bagian dari
pendidikan yang vital untuk menunjang keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu
perlu adanya pengelolaan sarana dan prasarana yang baik untuk dapat dapat
mewujudkan keberhasilan pendidikan. Banyak hambatan yang dihadapi sekolah dalam
meningkatkan mutunya karena keterbatasan sarana dan prasarananya. Keterbatasan
sarana dan prasarana dapat menghambat kemajuan sekolah.
Kedua,
guru yang tidak profesional. Guru merupakan bagian penting dalam proses belajar
mengajar. Keberlangsungan kegiatan belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh
profesionalitas guru. Akan tetapi pada kenyataannya guru mengahadapi dua yang
dapat menurunkan profesionalitas guru. Pertama, berkaitan dengan faktor dari
dalam diri guru, meliputi pengetahuan, keterampilan, disiplin, upaya pribadi,
dan kerukunan kerja. Kedua berkaitan dengan faktor dari luar yaitu berkaitan
denagan pekerjaan, meliputi manajemen dan cara kerja yang baik, penghematan
biaya dan ketepatan waktu. Kedua faktor tersebut dapat menjadi hambatan bagi
pengembangan sekolah.
2.5.
Kelebihan
dan Kelemahan Full Day School
2.5.1.
Kelebihan
Setiap sistem tidak mungkin ada yang sempurna, tentu
memiliki keunggulan dan kekurangan termasuk sistem full day school.
Diantara keunggulan sistem ini adalah
·
Anak anak akan
mendapatkan metode pembelajaran yang bervariasi dan lain daripada sekolah
dengan program reguler.
·
Orang tua tidak akan
takut anak akan terkena pengaruh negatif karena untuk masuk ke sekolah tersebut
biasanya dilakukan tes (segala macam tes) untuk menyaring anak-anak dengan
kriteria khusus (IQ yang memadai, kepribadian yang baik dan motivasi belajar
yang tinggi)
·
Sistem Full day
school memiliki kuantitas waktu yang lebih panjang daripada sekolah biasa.
·
Guru dituntut lebih
aktif dalam mengolah suasana belajar agar siswa tidak cepat bosan.
·
Meningkatkan gengsi
orang tua yang memiliki orientasi terhadap hal-hal yang sifatnya prestisius.
·
Orang tua akan
mempercayakan penuh anaknya ada sekolah saat ia berangkat ke kantor hingga ia
pulang dari kantor
2.5.2.
Kelemahan
Sedangkan kelemahan dari sistem ini adalah:
·
Siswa akan cepat bosan
dengan lingkungan sekolah
·
Lebih cepat stress
·
Mengurangi
bersosialisasi dengan tetangga dan keluarga
·
Kurangnya waktu bermain
·
Anak-anak akan banyak
kehilangan waktu dirumah dan belajar tentang hidup bersama keluarganya.
2.6.
Sekolah
Yang Menerapkan Model Pembelajaran Full Day School
Beberapa lembaga yang
menerapkan sistem pembelajaran fullday school antara lain;
1. SMU
Taruna Nusantara di Magelang
2. SMU
Plus Muthahhari di Bandung
3. SMU
Madania Parung Bogor
4. Lembaga
kursus bahasa asing di Pare Kediri
5. UIN
Malang (melalui program ma’had)
6. MAPK
(Madrasah Aliyah Program Khusus).
Beberapa sekolah dasar
yang menerapkan model pembelajaran full day school, sebagai berikut:
1.
SD
Islam Terpadu Permata Bunda, Bawen Kabupaten. Semarang.
Ø Contoh
Sekolah yang Menggunakan Model Pembelajaran Full Day School
Karakteristik
Sistem Pembelajaran Full Day School SD Muhammadiyah 1 Bangkalan
Berprestasi
& Berpekerti
Full day school
mengandung arti system pendidikan yang menerapkan pembelajaran atau kegiatan
belajar mengajar sehari penuh dengan memadukan system pengajaran yang intensif
yakni dengan menambah jam pelajaran untuk pendalaman materi pelajaran serta
pengembangan diri dan kreatifitas yang meliputi ilmu umum dengan ilmu agama
secara seimbang.
Karakteristik sistem
pembelajaran Full Day School adalah Siswa selalu berprestasi dalam proses
pembelajaran yang berkualitas yakni diharapkan akan terjadi perubahan positif
dari setiap individu siswa sebagai hasil dari proses dan aktivitas dalam
belajar, baik itu untuk ilmu umum dan ilmu agama agar bisa dijalankan secara
seimbang.
1. Karakteristik Sistem Pembelajaran Full Day School SD Muhammadiyah 1
Bangkalan
Full Day School (FDS) menerapkan suatu
konsep dasar “Integrated-Activity” dan “Integrated-Curriculum”. Hal inilah yang
membedakan dengan sekolah pada umumnya. Dalam FDS semua program dan kegiatan
siswa di sekolah, baik belajar, bermain, beribadah dikemas dalam sebuah sistem
pendidikan. Titik tekan pada FDS adalah siswa selalu berprestasi belajar dalam
proses pembelajaran yang berkualitas yakni diharapkan akan terjadi perubahan
positif dari setiap individu siswa sebagai hasil dari proses dan aktivitas
dalam belajar. Adapun prestasi belajar yang dimaksud terletak pada tiga ranah,
yaitu:
a) Prestasi yang bersifat kognitif
b) Prestasi yang bersifat afektif
c) Prestasi yang bersifat psikomotorik.
Pada prinsipnya, sekolah dasar Muhammadiyah
1 Bangkalan dengan FDS-nya hendak memadukan ilmu umum dan agama, sebagai
jawaban atas kegagalan yang dilakukan sekolah umum dan lembaga pendidikan Islam
lainnya. Sehingga, dalam praktiknya, sekolah dasar Muhammadiyah 1 Bangkalan
melakukan pengembangan kurikulum dengan cara memadukan kurikulum pendidikan
umum yang ada di Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), seperti
pelajaran matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, IPA, IPS, dan
lain-lain, serta kurikulum pendidikan agama Islam yang ada di Kementrian Agama
(Kemenag), ditambah dengan kurikulum dari Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah
Muhammadiyah (Majlis Dikdasmen).
Bangunan keilmuan yang dikembagkan oleh
model ini tidak dilihat secara dikotomis melainkan dilihat secara padu dan utuh
(integral). Paradigma yang dibangun adalah bahwa kebenaran di jagad ini tidak
akan lengkap hanya didekati oleh kerja nalar dan observasi yang disebut dengan
kebenaran ilmiah. Selain itu ada kebenaran intuitif dan juga kebenaran wahyu.
Lembaga Pendidikan Sekolah Dasar Muhammadiyah 1 Bangkalan menginginkan
penggalian kebenaran melalui sumber-sumber yang lebih komprehensif. Hal itu
dapat ditemukan dengan cara memadukan berbagai sumber, baik yang bersifat
ilmiah maupun yang dapat digali dari sumber kitab suci (al-Qur’an dan Hadits).
Antara ilmu dan agama dilihat dan fungsikan secara padu, selain sama-sama untuk
menggali kebenaran juga masaing-masing bersifat komplementer. Al-qur’an akan
dapat dipahami secara lebih luas dan mendalam jika menyertakan ilmu dan
sebaliknya ilmu akan berkembang jika mendapat inspirasi dari penuturan
al-qur’an, yaitu bangunan keilmuan yang diharapkan mencerminkan sekolah Islam.
2. Pengembangan Institusional Pendidikan Full Day School SD
Muhammadiyah 1 Bangkalan
Untuk meminimalkan dampak negatif, upaya
yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan full day school bagi perkembangan
anak antara lain:
Pengembangan kurikulum dan pengelolaan sesuai dengan alokasi waktu, kebutuhan, dan perkembangan anak agar FDS dapat mengoptimalkan perkembangan anak.
Kurikulum dewasa ini didasarkan pada pemahaman bahwa ide anak-anak dapat membentuk/membangun pengetahuan mereka sendiri. Untuk itu, program-program belajar harus terus mempersiapkan anak-anak dengan program kurikulum yang direncanakan dengan baik agar dapat memenuhi kebutuhan semua anak. Kurikulum untuk program belajar sekarang ini melakukan hal-hal berikut:
Pengembangan kurikulum dan pengelolaan sesuai dengan alokasi waktu, kebutuhan, dan perkembangan anak agar FDS dapat mengoptimalkan perkembangan anak.
Kurikulum dewasa ini didasarkan pada pemahaman bahwa ide anak-anak dapat membentuk/membangun pengetahuan mereka sendiri. Untuk itu, program-program belajar harus terus mempersiapkan anak-anak dengan program kurikulum yang direncanakan dengan baik agar dapat memenuhi kebutuhan semua anak. Kurikulum untuk program belajar sekarang ini melakukan hal-hal berikut:
1) Memasukkan tujuan untuk dicapai dalam semua bidang, meliputi
bidang sosial, emosi, kognitif, dan fisik supaya mampu mempersiapkan anak-anak
unuk berperan sebagai warga Negara.
2) Menggarap perkembangan pengetahuan, pengertian, proses, dan
keterampilan tidak sebagai fakta terpisah.
3) Berdasarkan sasaran nyata yang menantang, namun bisa dicapai.
4) Merefleksikan kebutuhan dan minat masing-masing anak dan
kelompok.
5) Menghormati dan mendukung keragaman individu, budaya, dan bahasa.
6) Membangun pengetahuan di atas apa yang sudah diketahui anak dan
mampu mengkonsolidasikan belajar mereka dan memajukan pencapaian konsep dan keterampilan
baru
7) Memungkinkan integrasi di seluruh isi
8) Memenuhi standar yang diakui atas disiplin pelajaran yang relevan.
9) Melibatkan anak-anak secara aktif, sosial, fisik, dan mental.
10) Sangat lentur/fleksibel sehingga para guru dapat menyesuaikan
diri dengan masing-masing anak atau kelompok.
Pembelajaran yang dilakukan pada FDS, waktu
anak banyak terlibat dalam kelas yang bermuara pada produkktifitas yang tinggi
dan siswa juga menunjukkan sikap yang lebih positif dan terhindar dari
penyimpangan – penyimpangan karena keseharian berada di dalam kelas dan dalam
pengawasan guru. Selain itu anak-anak jelas akan mendapatkan metode
pembelajaran yang bervariasi dan lain daripada sekolah dengan program reguler,
orang tua tidak akan merasa khawatir, karena anak-anak akan berada seharian di
sekolah yang artinya sebagian besar waktu anak adalah untuk belajar, orang tua
tidak akan takut anak akan terkena pengaruh negatif karena untuk masuk ke
sekolah tersebut biasanya dilakukan tes (segala macam tes) untuk menyaring
anak-anak dengan kriteria khusus (IQ yang memadai, kepribadian yang baik dan
motivasi belajar yang tinggi), tentu saja akan meningkatkan gengsi orang tua
yang memiliki orientasi terhadap hal-hal yang sifatnya prestisius, obsesi orang
tua akan keberhasilan pendidikan anak (karena mereka berpikir jika anak mau
pandai harus dicarikan sekolah yang bagus, dan sekolah bagus itu adalah yang
mahal) memiliki peluang besar untuk tercapai. Mungkin banyak lagi hal-hal
’positif’ lainnya yang tidak tersebut di sini. Jelas kondisi-kondisi tersebut
akan muncul dan menjadi pilihan yang menjanjikan bagi anak dan orang tua.
Secara utuh dapat dilihat bahwa pelaksanaan
system pendidikan full day school di SD Muhammadiyah 1 Bangkalan mengarah pada
beberapa tujuan, antara lain:
Untuk memberikan pengayaan dan pendalaman materi
pelajaran yang telah ditetapkan oleh diknas sesuai jenjang pendidikan. Memberikan
pengayaan pengalaman melalui pembiasaan-pembiasaan hidup yang baik untuk
kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melakukan pembinaan kejiwaan,
mental dan moral peserta didik disamping mengasah otak agar terjadi
keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani sehingga terbentuk kepribadian
yang utuh. Pembinaan spiritual Intelegence peserta didik melalui penambahan
materi-materi agama dan kegiatan keagamaan sebagai dasar dalam bersikap dan
berperilaku.
DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR
2.1 Konsep Dasar Diagnostik Kesulitan
Belajar
2.1.1
Pengertian Diagnosis
Diagnosis
merupakan istilah teknis (terminology) yang kita adopsi dari bidang medis.
Menurut Thorndike dan Hagen (1995:
530-532), diagnosis dapat diartikan sebgai:
a. Upaya
atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, desease) apa yang
dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama menegnai
gejala-gejalanya (symptons).
b. Studi
yang sesama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau
kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial.
c. Keputusan
yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang seksama atas gejala-gejala atau
fakta tentang suatu hal.
Dari
ketiga pengertian tersebut diatas, dapat kita maklumi bahwa di dalam konsep
diagnosis, secara implisit telah tersimpul pula konsep pragnosisnya. Dengan
demikian, di dalam pekerjaan diagnositik bukan hanya sekedar mengidentifikasi
jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau
penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk
meramalkan, memungkinkan, dan menyarankan tindakan pemecahannya.
2.1.2 Pengertian
Kesulitan Belajar
Burton
(1952: 622-624) mengidentifikasi seorang siswa kasus dapat dipandang atau dapat
diduga mengalami kesulitan belajar apabila yang bersangkutan menunjukkan
kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Kegagalan belajar
didefinisikan oleh Burton sebagai berikut:
a. Siswa
dikatakan gagal apabila dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak
mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan minimal dalam
pelajaran tertentu, seperti yang telah ditetapkan oleh orang dewasa atau guru.
Dalam konteks sistem pendidikan di Indonesia angka nilai batas lulus itu ialah
angka 6 atau 60 atau C (60% dari tingkat ukuran yang diharapkan atau ideal).
Kasus siswa semacam ini dapat digolongkan ke dalam lower group.
b. Siswa
dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat menegrjakan atau mencapai
prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya: intelegensi,
bakat). Ia diramalkan akan dapat mengerjakannya atau mencapai suatu prestasi,
namun ternyata tidak sesuai dengan kemampuannya. Kasus siswa ini dapat
digolongkan ke dalam under archievers.
c. Siswa
dikatakan gagal apabila siswa yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan
tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial sesuai dengan pola
organismenya pada fase perkembangan tertentu, seperti yang berlaku bagi
kelompok sosial dan usia yang bersangkutan. Kasus siswa bersangkutan dapat
dikategorikan ke dalam slow learners.
d. Siswa
dikatakan gaggal kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat
penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat
pelajaran berikutnya. Kasus siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learners
atau belum matang sehingga mungkin harus menjadi peluang pelajaran.
Dari
keempat definisi diatas, dapat kita simpulkan bahwa seorang siswa diduga
mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai
taraf kualifikasi hasil belajar tertentu (berdasarkan ukuran kriteria
keberhasilan seperti yang dinyatakan dalam TIK atau ukuran tingkat kapasitas
atau kemampuan dalam program pelajaran time allowed dan atau tingkat
perkembangannya).
Dalam
hasil belajar, sudah tentu mencakup aspek-aspek substansial-material,
fungsional-struktural, dan behavioral atau yang mencakup segi-segi kognitif,
afektif, dan psikomotor. Sedangkan batasan waktu yang dimaksud, dapat berati
satu periode pendidikan atau fase perkembangan, satu tingkat atau kelas tahun
pelajaran, semester atau triwulan, mingguan bahkan jam pelajaran tertentu.
2.1.3 Diagnostik
Kesulitan Belajar
Dengan
mengaitkan kedua pengertian dasar di atas (butir a dan b), kita dapat
mendefinisikan diagnostik kesulitan belajar sebagai suatu proses upaya untuk
memahami jenis dan karakteristik serta latar belakang kesulitan-kesulitan
belajar dengan menghimpun dan mempergunakan berbagai data/informasi selengkap
dan seobjektif mungkin sehingga memungkinkan untuk mengambil kesimpulan dan
keputusan serta mencari alternatif kemungkinan pemecahannya.
2.2
Prosedur
dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar
Secara
umum langkah-langkah pelaksanaan diagnostik kesulitan belajar selaras dengan
langkah-langkah pelaksanaan bimbingan belajar. Namun secara khusus,
langkah-langkah diagnostik kesuliatn belajar itu dapat diperinci lebih lanjut,
megingat pada hakikatnya hanya merupakan salah satu bagaian atau jenis layanan
bimbingan belajar.
Ross dan Stanley (1956:332-341),
tahapan-tahapan diagnosis itu sebagai berikut:
5. How can errors be prevented?
Bagaimana kelemahan itu dapat
dicegah?
|
||||||||
4. what remedies are suggested?
Penyembuhan-penyembuhan apakah
yang disarankan?
|
||||||||
3. why do the errors occur?
Mengapa kelemahan-kelemahan itu
terjadi?
|
||||||||
2. where are the errors located
Di manakah kelemahan-kelemahan itu
dapat dilokalisasikan?
|
||||||||
1.who are the pupils having trouble?
Siapa-siapa siswa yang mengalami
gangguan
|
||||||||
Burton
(1952: 640-652) menggariskan agak lain, yaitu berdasarkan kepada teknik dan
instrumen yang digunakan dalam pelaksanannya sebagai berikut:
1) General
diagnosis
Pada
tahap ini lazim dipergunakan tes baku, seperti yang dipergunakan untuk evaluasi
dan pengukuran psikologis dan hasil belajar. Sasarannya, untuk menemukan
siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu.
2) Analystic
diagnostic
Pada
tahap ini yang lazimnya digunakan ialah tes diagnostok. Sasarnnya, untuk
mengetahui dimana letak kelemahan tersebut.
3) Psychoogical
diagnosis
Pada
tahap ini teknik pendekatan dan instrumen yang digunakan antara lain:
a. Observasi
b. Analisis
karya tulis
c. Analisis
proses dan respons lisan
d. Analisis
berbagai catatan objektif
e. Wawancara
f. Pendekatan
laboratoris dan klinis
g. Studi
kasus
Sebelum melaksanakan pengajaran
remedial, guru terlebih dahulu perlu menegakkan diagnosis kesulitan belajar,
yaitu menentukan jenis dan penyebab kesulitan serta alternatif strategi
pengajaran remedial yang efektif dan efisien. Diganosis kesulitan belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan
kesulitan belajar. Sebagai prosedur maka diagnosis kesulitan belajar terdiri
dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis. Agar
pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar dapat menghasilkan sesuai dengan
keinginan, maka taat pada prosedur itu merupakan suatu keharusan.
Beberapa langkah pokok/prosedur dan
teknik pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar adalah sebagai berikut:
1.
Identifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar
Beberapa langkah-langkah yang dapat
ditempuh dalam mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan sebagai berikut:
- Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam suatu
kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan dalam belajar baik yang
sifatnya umum maupun sifatnya lebih khusus dalam bidang studi tertentu.
- Teknik yang dapat ditempuh bermacam-macam antara lain dengan:
1)
Meneliti nilai ujian.
2)
Menganalisis hasil ujian dengan melihat tipe kesalahan
yang dibuatnya.
3)
Observasi pada saat siswa dalam proses belajar
mengajar.
4)
Memeriksa buku catatan pribadi yang ada pada petugas
bimbingan.
5)
Melaksanakan sosiometris untuk melihat hubungan sosial
psikologis yang terdapat pada para siswa.
2.
Melokalisasikan Letaknya Kesulitan (Permasalahan)
Setelah kita menemukan kelas atau
individu siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, maka pesoalan
selanjutnya yang perlu kita telaah, ialah (1) dalam mata pelajaran (bidang
studi) manakah kesulitan itu terjadi, (2) pada kawasan tujuan belajar (aspek
prilaku) yang manakah ada kesulitan itu terjadi, (3) pada bagian (ruang lingkup
bahan) yang manakah kesulitan itu terjadi, dan (4) dalam segi kesulitan belajar
manakah kesulitan itu terjadi. Untuk itu dilakukan analisis letak kesulitan
belajar siswa dengan cara sebagai berikut:
a.
Mendekati kesulitan belajar pada bidang studi
tertentu. Dapat dilakukan dengan cara membandingkan angka nilai prestasi individu
siswa untuk semua bidang studi.untuk membuat jelas hal ini sebaiknya dibuat
grafik yang berisi semua mata pelajaran/bidang studi lengkap dengan
nilainya.
b.
Mendeteksi pada kawasan tujuan belajar dan bahagian
ruang lingkup bahan pelajaran dimanakah kesulitan terjadi. Dapat dilakukan
denganmenganalisis
jawaban siswa terhadap soal-soal setiap mata pelajaran. Dari jawaban itu dapat
diketahui pada bagiam mana siswa mendapat kesulitan.
c.
Analisis terhadap catatan mengenai proses belajar.
Analisis yang dimaksud disini adalah analisis terhadap kemampuan menyelesaikan
tugas-tugas, soal-soal saat proses belajar berlangsung, kehadiran atau
ketidakhadiran saat proses belajar berlangsung untuk setiap mata pelajaran,
penyesuaian diri dengan temannya.
3.
Lokalisasi jenis faktor dan sifat yang menyebabkan
siswa mengalami berbagai kesulitan (Diagnosis)
Pada garis besarnya sebab kesulitan dapat timbul dari
dua hal yaitu:
a. Faktor
internal yaitu faktor yang berada dan terletak pada diri siswa itu sendiri. Hal
ini antara lain disebabkan oleh:
1)
Kelemahan mental faktor kecerdasan, intelegensia, atau
kecakapan/bakat: khusus tertentu yang dapat diketahui melalui test tertentu.
2)
Kelemahan fisik, panca indera, syaraf, kecacatan,
kaena sakit dan sebagainya.
3)
Gangguan, yang bersifat emosional.
4)
Sikap dan kebiasaan yang salah dalam
mempelajari bahan pelajaran bahan pelajaran tertentu.
5)
Belum memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar
pelajaran-pelajaran tertentu.
b. Faktor
eksternal, yaitu faktor yang datang dari luar yang menyebabkan timbulnya hambatan
atau kesulitan. Faktor eksternal antara lain meliputi:
1)
Situasi atau proses belajar mengajar yang tidak
merangsang siswa untuk aktif antisifatif (kurang kemungkinannya siswa belajar
secara aktif”student aktif learning”).
2)
Sifat kurikulum yang kuran fleksibel.
3)
Ketidak seragaman pola dan standar administrasi.
4)
Beban belajar yang terlampau berat.
5)
Metode mengajar yang kurang memadai.
6)
Sering pindah sekolah.
7)
Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar
mengajar.
8)
Situasi rumah yang kuran mendorong untuk melakukan
aktivitas belajar.
4.
Perkiraan kemungkinan bantuan (Prognosis)
Apabila kita telaah tentang letak
kesulitan yang dialami siswa, jenis dan sifat kesulitan, latar belakangnya,
faktor-faktor yang menyebabkannya, maka kita akan dapat memperkirakan beberapa
hal berikut:
a.
Apakah siswa tersebut masih mungkin ditolong untuk
mengatasi kesulitannya atau tidak.
b.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi
kesulitan yang dialami siswa tertentu.
c.
Kapan dan dimana pertolongan itu dapat di berikan.
d.
Siapa yang dapat memberikan pertolongan.
e.
Bagaimana cara menolong siswa agar dapat dilaksanakan
secara efektif.
f.
Siapa sajakah yang harus dilibatsertakan dalam
menolong siswa tersebut.
5.
Penetapan kemungkinan cara mengatasinya (Referal)
Pada langkah ini perlu menyusun
suatu rencana atau alternatif-alternatif rencana yang akan
dilaksanakan untuk membantu peserta didik/siswa mengatasi masalah kesulitan
belajarnya. Rencana ini hendaknya berisi:
a.
Cara-cara yang harus ditempuh untuk menyembuhkan
kesulitan yang dialami siswa tersebut.
b.
Menjaga agar kesulitan yang serupa jangan sampai
terulang.
c.
Ada baiknya rencana ini dapat didiskusikan dan
dikomunikasikan dengan pihak-pihak yang dipandang berkepentingan kelak
diperkirakan akan terlibat dalam pemberian bantuan kepada yang bersangkutan
seperti penasehat akademik, guru, orang tua, pembimbing penyuluh dan ahli lain.
Secara khusus kegiatan ini hanya dapat diberikan oleh guru mata kuliah yang
tahu persis tentang berbagai kesulitan yang bisa di alami siswa dalam mata
pelajarannya. Rencana ini harus berisi tentang:
1)
Jadwal kegiatan pemberian bantuan.
2)
Cara bantuan diberikan.
3)
Tempat.
d.
Petugas yang akan memberikan bantuan.
e.
Tindak lanjut bantuan.
6.
Tindak
lanjut
Kegiatan tindak lanjut adalah
kegiatan melakukan bantuan, bimbingan, arahan atau pengajaran paling tepat
dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar, cara ini dapat berupa :
a.
Melaksanakan bantuan berupa melaksanakan pengajaran
remidial pada mata pelajaran yang menjadi masalah bagi siswa tertentu. Remidial
dapat dilakukan oleh guru, atau pihak lain yang dianggap dapat menciptakan
suasana belajar siswa yang penuh motivasi.
b.
Membagi tugas dan peranan kepada orang-orang tertentu
dalam memberikan bantuan pada siswa.
c.
Senantiasa mengecek dan ricek kemajuan terhadap siswa
yang bermasalah baik pamahaman mereka terhadap bantuan yang diberikan berupa
bahan, maupun mencek bahan tepat guna program remedial yang dilakukan untuk
setiap saat diadakan revisi dan improvisasi.
d.
Mentransfer atau mengirim (roferral case) siswa yang
menurut perkiraan tidak dapat ditangani oleh guru kepada orang atau lembaga
lain (psikologi, psikiater, lembaga bimbingan, lembaga psikoligi dan
sebagainya) yang diperkirakan akan lebih dapat dan lebih tepat membantu siswa
tersebut.
2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar
1. Faktor
Internal
Faktor-faktor
yang berasal dalam diri siswa itu sendiri. Hal ini antara lain, disebabkan
oleh:
a. Kelemahan
fisik, pancaindera, syaraf, cacat, sakit, dan sebagainya.
b. Kelemahan
mental: faktor kecerdasan, seperti inteligensi dan bakat yang dapat diketahui
dengan tes psikologis.
c. Gangguan-gangguan
yang bersifat emosional.
d. Sikap
kebiasaan yang salah dalam mempelajari materi pelajaran.
e. Belum
memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar yang dibutuhkan untuk memahami materi
pelajaran lebih lanjut.
2. Faktor
Eksternal
Faktor yang
berasal dari luar diri siswa, sebagai penyebab kesulitan belajar, antara lain:
a. Situasi atau proses belajar mengajar yang tidak
merangsang siswa untuk aktif antisipatif (kurang memungkinkan siswa untuk
belajar secara aktif “student active
learning”).
b. Sifat
kurikulum yang kurang fleksibel.
c. Beban studi
yang terlampau berat.
d. Metode
mengajar yang kurang menarik.
e. Kurangnya
alat dan sumber untuk kegiatan belajar.
f. Situasi
rumah yang kurang kondusif untuk belajar.
2.4 Strategi atau Upaya Meningkatkan
Untuk
mengatasi kesulitan belajar bagi siswa, guru perlu memperhatikan hal hal yang
melatarbelakangi siswa mengalami kesulitan belajar. Namun dalam praktiknya guru
dalam mengatasi kesulitan belajar siswa hanya sekedar mengulangi materi yang
pernah diajarkan tetapi belum dikuasai siswa dan tidak melihat penyebab utama
siswa belum menguasai materi pelajaran itu. Kondisi ini berakibat pada
pemecahan kesulitan belajar anak tidak dapat terselesaikan dengan baik. Salah
satu langkah awal dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut adalah dengan
mencari penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa mencari solusi pemecahan
yang tepat dan mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi kesulitan belajar
yang dialami siswa tersebut. Salah satu cara meningkatkan hasil belajar adalah
mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh siswa adalah melalui:
1.
Pemberian bimbingan belajar
Bimbingan belajar adalah proses bantuan yang diberikan kepada individu
(siswa) agar dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam belajar.
Sehingga setelah melalui proses perubahan belajar, mereka dapat mencapai hasil
belajar yang optimal sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.
2.
Mengajak dan menarik minat siswa untuk belajar aktif
Menurut John Holt, proses belajar
akan meningkat jika siswa diminta untuk melakukan hal hal berikut:
a.
Mengemukakan kembali informasi
b.
Memberikan contohnya
c.
Mengenalinya dalam bermacam bentuk dan situasi
d.
Menggunakan dengan beragam cara
e.
Memprediksi sejumlah konsekwensinya
f.
Menyebutkan kebalikan
Ketika siswa aktif dalam kegiatan
pembelajaran maka siswa dapat mengaitkan apa yang diajarkan kepadanya dengan
apa yang telah diketahuinya sebelumnya. Guru hendaknya menggunakan metode
pembelajaran aktif maupun mix methode
untuk menarik perhatian siswa agar
mau ikut serta dan aktif dalam proses pembelajaran.
3.
Memberikan perhatian dan menciptakan suasana yang
menyenangkan
Para pendidik terutama orang tua dan
para guru supaya memberikan perhatian yang cukup kepada anak didiknya, sehingga
kekurangan atau kelemahan-kelamahan mereka secepatnya diketahui dan diatasi
dengan berkonsultasi sesuia denga keluhan-keluhan yang ada kepada ahli-ahli
yang bersangkutan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
anak yang dapat mempelajari suatu mata pelajaran dengan baik akan menyenangi
mata pelajaran tersebut. Begitu juga sebaliknya, anak yang tidak menyenangi
suatu mata pelajaran biasanya tidak atau kurang berhasil mempelajari mata
pelajaran tersebut. Karenanya, tugas utama yang sangat menentukan bagi seorang
guru adalah bagaimana membantu siswanya sehingga mereka dapat mempelajari
setiap materi dengan baik.
4.
Memberikan sarana dan prasarana yang memadai
Sarana dan prasarana sangatlah
dibutuhkan sebagai media pembelajaran sehingga ketika guru menjelaskan materi,
guru dapat sekaligus mempraktekan di hadapan siswa, dan siswa dapat secara
langsung melihat dan mencobanya. Dengan demikian maka kebutuhan khusus seorang
pelajar dapat terpenuhi. Berikut tipe-tipe khusus pelajar, yaitu:
a. Bertipe
visual, akan lebih cepat mempelajari bahan-bahan yang disajikan secara
tertulis, bagan, grafik, gambar.
b. Bertipe
auditif mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk suara.
c. Bertipe
motorik, mudah mempelajari yang berupa tulisan-tulisan, ataupun gerakan dan
sulit mempelajari bahan yang berupa suara dan penglihatan.


10.17
Unknown