- See more at: http://blog-rangga.blogspot.com/2013/08/cara-membuat-blog-anti-copy-paste-dan.html#sthash.inw5IHhz.dpuf

Selasa, 30 Desember 2014

SEBERKAS CAHAYA LAMPION

Berkelanaku keujung dunia, menapaki sekilas masa yang begitu suram. Lelah kaki ini melangkah demi menghapus semua masa lalu yang membuatku tenggelam dalam gelap. Begitu banyak lampion mulai menemani setiap langkah ini, berusaha bangkit dan berdiri tegak menghadap langit.
Pagi yang dingin menusuk tulangku dan membangunkanku dalam mimpi dan tiba-tiba terdengar suara dari arah dapur yang mengejutkan aku.
“praak” suara gelas pecah dari dalam dapur.
“ma?” teriakku dari kamar seraya mencari tahu apa yang terjadi dibawah. Tak ada suara menyahut dari dalam dapur semakin penasaran aku turun dan menemukan hal yang begitu mengejutkan.
“papa” kagetku bukan main.
“apa yang papa lakukan? Kenapa papa selalu marah? “teriakku kepada papa
“kamu anak kecil tahu apa? Sukanya hanya minta duit aja sudah berani ngomong kamu?” bentak papa.
Suasana hening seketika, hanya suara tangis mama yang terdengar sayu-sayu seraya mengiringi kepergian papa yang meninggalkan kami.
Suasana seperti inilah yang tak pernah kuinginkan apalagi terpikirkan pun tak pernah. Keluargaku memang keluarga yang dapat dikatakan mampu, akupun tak pernah kekurangan suatu apapun selalu berkecukupan bahkan dapat dikatakan berlebihan. Aku tinggal dirumah ini bersama Papa, Mama dan kedua kakakku. Dulu memang kami keluarga yang bahagia tetapi setelah papa dipindahkan tugas keluar kota banyak kejadian yang membuat keluarga kami berantakan seperti ini.  Papaku memang salah satu seorang pengabdi negara.
“Lia...Lia.. bangun” teriak teman sekamarku yang sangat berisik pagi ini.
“heemt”  jawabku malas.
“kamu kuliah ndak si..? tanyanya. “ iya-iya aku kuliah kok, bentar lagi bangun” jawabku sambil menarik selimut lagi.
“tadi malam kamu pulang jam berapa si?” 
“ hemt jam 2 va, kenapa si?” jawabku malas.
“hah jam 2? Gile lu ngapain aja si jam 2 baru pulang? Sama Doni juga?” tanya Eva
“iyalah sama siapa lagi, udah ah gue mandi dulu”. Jawabku.
Aku seperti memiliki dunia sendiri saat ini. Aku merasa sangat nyaman saat jauh dari mereka orang tuaku, aku merasa sangat bebas seperti burung yang hanya mengikuti arus. Aku tak peduli dengan apa yang sekarang terjadi, kuliahku, temanku, dan semua yang ada disekitarku. Aku tak pernah peduli dengan omongan mereka yang selalu memakiku dengan caciannya sebagai seorang pelacurlah, pemakailah dan semuanya mereka bilang sesuka hati mereka.
Mereka hanya bisa bicara tak mengerti apa yang terjadi sebelumnya dalam hidupku. Masa lalu yang kelam dan semua cobaan yang aku hadapi. Mereka hanya melihat luarnya tanpa mempertimbangkan dalamnya, tapi aku tak peduli dengan semuanya aku selalu tegar dan mulai bersikap biasa saat mereka selalu menatapku dengan sinisnya. Hanya Eva yang selalu menyemangatiku dan membantuku. Aku mengenal Eva saat dia menemukanku seperti orang glandangan dijalan, dia mengangkatku sebagai saudara dan membantuku untuk kuliah disini. Dia adalah lampionku saat ini, walaupun keadaannya tak begitu baik, tetapi dia mampu mengubahku menjadi wanita yang sangat luar biasa saat ini.
Dahulu aku adalah wanita malam yang selalu pulang dini hari dan tak pernah pulang kerumah karena memang aku benci dengan keadaan rumah. Aku pernah membawa seorang pria kekos bergantian tiap malam, hingga banyak anak kos yang tak suka padaku hingga mereka mengusirku keluar. Disaat itulah datang sinar lampion kecil dengan langkah mantap menujuku tanpa berpikir panjang dia membantuku keluar dari dunia gelap ini.
“ Lia kalu bisa kamu jangan pulang dini hari lagi, aku khawatir”. Pinta Eva
“iya sayang aku nggak akan pulang dini hari lagi, janji karena tadi malam kan ada shift sampai pagi”. Jelasku
“sekarang kamu makan dulu terus baru berangkat”. Ajak Eva.
“siap bos..hehehehe” jawabku
Kami berdua pun makan bersama dan pergi ke kampus. Hari ini Eva kuliah samapi sore dan mau tak mau aku harus menunggunya sampai sore. Aku pun duduk ditaman dekat kantin tiba-tiba Andy datang menemuiku. Andy adalah mantan pacar Eva.
“hay Lia, apa kabar?” sapa Andy
“ hay juga , gue baik-baik saja, gimana lu?” tanyaku
“baik kok, eh ngomong-ngomong lu masih kerja nggak? Gue ada tawaran bagus ni pemotretan di studio kakak gue, gimana?” tanya Andy
Aku seketika bingung. Aku sudah berjanji dengan Eva untuk mengambil job-job pemotetran seperti itu, karena Eva takut aku akan terjatuh lagi kedalam lubang yang sama, semua orang tahu Andy adalah seorang yang selalu mencari wanita-wanita untuk diperkerjakan sebagi model sexy. Aku bingung karena aku pun masih butuh uang untuk menghidupi diriku sendiri dan tak bergantung dengan Eva. Akupun menerima tawaran Andy, dengan diam-diam aku melakuan pekerjaan yang dulu pernah aku lakukan, selain sebagai model akupun juga memjadi penari di bar. Semua kulakukan agar tidak menyusahkan Eva. Aku tahu lama-kelmaan Eva akan mengetahui apa yang aku lakukan, dan aku sudah siap untuk kehilangan kesetiaannya.
“Lia, ada klien tuh” datang Andy memanggilku
“oke, gue siap” jawabku, “maaflan aku Eva, aku menyayangimu” kataku dalam hati.
Aku tak tahu bahwa klien yang dibawa Andy adalah ternyata ayah Eva, yang seorang pengabdi negara. Kini kisah keluargaku terulang kembali dan diperankan olehku. Aku tak tahu sejak kapan Eva mengikuti dan akhirnyapun mengetahui apa yang selama ini aku lakukan. Aku sudah siap dengan semua yang kan terjadi. Aku merebut kebahagiaan keluarnya. Aku seperti benalu baginya, aku sangat muak dengan tubuh dan diri ini yang tak bisa menahan kesenangan yang selalu membuatku luka. Bukan maksudku balas dendam dengan  keadaan yang membuatku seperti ini, membuat berantakan keluargaku. Aku tak mau seperti ini.
“Eva maafin aku” gemetar aku mengucapkannya dengan isak tangisku menahan.
“ apa yang terjadi, kenapa kau lakukan ini padaku?” tanya Eva dengan gemetar tak mengerti
“aku minta maaf va, buka maksudku untuk membuatmu seperti ini” jelasku
“ maafkan aku juga Lia, aku yang membuatmu seperti ini” jelasnya menangis sambil memelukku.
“maksudmu?” tanyaku bingung.
“aku minta maaf, dan lupakan semua” jelasnya dan membuatku bingung, apa yang sebernanya terjadi.

Kini sinar lampion itu semakin terang semakin banyak, membuatku dapat melangkah pasti kedepan, walapun aku tahu bahwa Eva adalah salah satu orang yang membuat keluargaku rusak dan membuatku jatuh kelubang yang paling dasar, namun dia mampu mengangkatku dengan penuh semangat dan seperti lampion yang terang dan mampu membawaku kedunia yang lebih terang dan indah dengan jutaan lampion disampingku.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management