SEBERKAS
CAHAYA LAMPION
Berkelanaku
keujung dunia, menapaki sekilas masa yang begitu suram. Lelah kaki ini
melangkah demi menghapus semua masa lalu yang membuatku tenggelam dalam gelap.
Begitu banyak lampion mulai menemani setiap langkah ini, berusaha bangkit dan
berdiri tegak menghadap langit.
Pagi yang dingin
menusuk tulangku dan membangunkanku dalam mimpi dan tiba-tiba terdengar suara
dari arah dapur yang mengejutkan aku.
“praak” suara gelas pecah
dari dalam dapur.
“ma?” teriakku dari
kamar seraya mencari tahu apa yang terjadi dibawah. Tak ada suara menyahut dari
dalam dapur semakin penasaran aku turun dan menemukan hal yang begitu
mengejutkan.
“papa” kagetku bukan
main.
“apa yang papa lakukan?
Kenapa papa selalu marah? “teriakku kepada papa
“kamu anak kecil tahu
apa? Sukanya hanya minta duit aja sudah berani ngomong kamu?” bentak papa.
Suasana hening
seketika, hanya suara tangis mama yang terdengar sayu-sayu seraya mengiringi
kepergian papa yang meninggalkan kami.
Suasana
seperti inilah yang tak pernah kuinginkan apalagi terpikirkan pun tak pernah.
Keluargaku memang keluarga yang dapat dikatakan mampu, akupun tak pernah
kekurangan suatu apapun selalu berkecukupan bahkan dapat dikatakan berlebihan.
Aku tinggal dirumah ini bersama Papa, Mama dan kedua kakakku. Dulu memang kami
keluarga yang bahagia tetapi setelah papa dipindahkan tugas keluar kota banyak
kejadian yang membuat keluarga kami berantakan seperti ini. Papaku memang salah satu seorang pengabdi
negara.
“Lia...Lia.. bangun”
teriak teman sekamarku yang sangat berisik pagi ini.
“heemt” jawabku malas.
“kamu kuliah ndak si..?
tanyanya. “ iya-iya aku kuliah kok, bentar lagi bangun” jawabku sambil menarik
selimut lagi.
“tadi malam kamu pulang
jam berapa si?”
“ hemt jam 2 va, kenapa
si?” jawabku malas.
“hah jam 2? Gile lu
ngapain aja si jam 2 baru pulang? Sama Doni juga?” tanya Eva
“iyalah sama siapa
lagi, udah ah gue mandi dulu”. Jawabku.
Aku
seperti memiliki dunia sendiri saat ini. Aku merasa sangat nyaman saat jauh
dari mereka orang tuaku, aku merasa sangat bebas seperti burung yang hanya
mengikuti arus. Aku tak peduli dengan apa yang sekarang terjadi, kuliahku,
temanku, dan semua yang ada disekitarku. Aku tak pernah peduli dengan omongan mereka
yang selalu memakiku dengan caciannya sebagai seorang pelacurlah, pemakailah
dan semuanya mereka bilang sesuka hati mereka.
Mereka
hanya bisa bicara tak mengerti apa yang terjadi sebelumnya dalam hidupku. Masa
lalu yang kelam dan semua cobaan yang aku hadapi. Mereka hanya melihat luarnya
tanpa mempertimbangkan dalamnya, tapi aku tak peduli dengan semuanya aku selalu
tegar dan mulai bersikap biasa saat mereka selalu menatapku dengan sinisnya.
Hanya Eva yang selalu menyemangatiku dan membantuku. Aku mengenal Eva saat dia
menemukanku seperti orang glandangan dijalan, dia mengangkatku sebagai saudara
dan membantuku untuk kuliah disini. Dia adalah lampionku saat ini, walaupun
keadaannya tak begitu baik, tetapi dia mampu mengubahku menjadi wanita yang
sangat luar biasa saat ini.
Dahulu
aku adalah wanita malam yang selalu pulang dini hari dan tak pernah pulang
kerumah karena memang aku benci dengan keadaan rumah. Aku pernah membawa
seorang pria kekos bergantian tiap malam, hingga banyak anak kos yang tak suka
padaku hingga mereka mengusirku keluar. Disaat itulah datang sinar lampion
kecil dengan langkah mantap menujuku tanpa berpikir panjang dia membantuku
keluar dari dunia gelap ini.
“ Lia kalu bisa kamu
jangan pulang dini hari lagi, aku khawatir”. Pinta Eva
“iya sayang aku nggak
akan pulang dini hari lagi, janji karena tadi malam kan ada shift sampai pagi”.
Jelasku
“sekarang kamu makan
dulu terus baru berangkat”. Ajak Eva.
“siap bos..hehehehe”
jawabku
Kami berdua pun makan
bersama dan pergi ke kampus. Hari ini Eva kuliah samapi sore dan mau tak mau
aku harus menunggunya sampai sore. Aku pun duduk ditaman dekat kantin tiba-tiba
Andy datang menemuiku. Andy adalah mantan pacar Eva.
“hay Lia, apa kabar?”
sapa Andy
“ hay juga , gue
baik-baik saja, gimana lu?” tanyaku
“baik kok, eh
ngomong-ngomong lu masih kerja nggak? Gue ada tawaran bagus ni pemotretan di
studio kakak gue, gimana?” tanya Andy
Aku
seketika bingung. Aku sudah berjanji dengan Eva untuk mengambil job-job pemotetran
seperti itu, karena Eva takut aku akan terjatuh lagi kedalam lubang yang sama,
semua orang tahu Andy adalah seorang yang selalu mencari wanita-wanita untuk
diperkerjakan sebagi model sexy. Aku bingung karena aku pun masih butuh uang
untuk menghidupi diriku sendiri dan tak bergantung dengan Eva. Akupun menerima
tawaran Andy, dengan diam-diam aku melakuan pekerjaan yang dulu pernah aku
lakukan, selain sebagai model akupun juga memjadi penari di bar. Semua
kulakukan agar tidak menyusahkan Eva. Aku tahu lama-kelmaan Eva akan mengetahui
apa yang aku lakukan, dan aku sudah siap untuk kehilangan kesetiaannya.
“Lia, ada klien tuh”
datang Andy memanggilku
“oke, gue siap”
jawabku, “maaflan aku Eva, aku menyayangimu” kataku dalam hati.
Aku
tak tahu bahwa klien yang dibawa Andy adalah ternyata ayah Eva, yang seorang
pengabdi negara. Kini kisah keluargaku terulang kembali dan diperankan olehku.
Aku tak tahu sejak kapan Eva mengikuti dan akhirnyapun mengetahui apa yang
selama ini aku lakukan. Aku sudah siap dengan semua yang kan terjadi. Aku
merebut kebahagiaan keluarnya. Aku seperti benalu baginya, aku sangat muak
dengan tubuh dan diri ini yang tak bisa menahan kesenangan yang selalu
membuatku luka. Bukan maksudku balas dendam dengan keadaan yang membuatku seperti ini, membuat
berantakan keluargaku. Aku tak mau seperti ini.
“Eva maafin aku”
gemetar aku mengucapkannya dengan isak tangisku menahan.
“ apa yang terjadi,
kenapa kau lakukan ini padaku?” tanya Eva dengan gemetar tak mengerti
“aku minta maaf va,
buka maksudku untuk membuatmu seperti ini” jelasku
“ maafkan aku juga Lia,
aku yang membuatmu seperti ini” jelasnya menangis sambil memelukku.
“maksudmu?” tanyaku
bingung.
“aku minta maaf, dan
lupakan semua” jelasnya dan membuatku bingung, apa yang sebernanya terjadi.
Kini
sinar lampion itu semakin terang semakin banyak, membuatku dapat melangkah
pasti kedepan, walapun aku tahu bahwa Eva adalah salah satu orang yang membuat
keluargaku rusak dan membuatku jatuh kelubang yang paling dasar, namun dia
mampu mengangkatku dengan penuh semangat dan seperti lampion yang terang dan
mampu membawaku kedunia yang lebih terang dan indah dengan jutaan lampion
disampingku.


10.17
Unknown
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar