- See more at: http://blog-rangga.blogspot.com/2013/08/cara-membuat-blog-anti-copy-paste-dan.html#sthash.inw5IHhz.dpuf

Selasa, 23 Desember 2014

SKENARIO PENGKOMUNIKASIAN HASIL TES DALAM KONSELING

Klien   : (mengetuk pintu) “Assalamu’alaikum..”
K’lor    : “Wa’alaikumsalam (membuka pintu). Oh mbak Novia/ Aisyah, silahkan masuk
   Mbak”.
Klien   : “Iya, terima kasih Bu”.
K’lor    : “Iya silahkan duduk mbak Novia/Aisyah (berjabat tangan dan mengiringi klien
    untuk duduk)”.
Klien   : “Iya Bu. Maaf Bu sebelumnya, kedatangan saya kesini menganggu waktu ibu”
K’lor    : “Ohh, tidak apa-apa mbk Novia/Aisyah, kebetulan ibu ini sedang tidak sibuk”
Klien   : “Iya Bu, begini bu, saya kan rabu kemarin habis ada tes psikologis bu, nah saya
                itu kurang paham dengan hasilnya bu, mungkin ibu bisa membantu saya dalam
                mentafsirkan arti dari hasil tes saya ini bu (dengan menunjukkan hasil tes)”
K’lor    : “Iyya, mbak Novia/Aisyah, bagus sekali mbk Novia/Aisyah memiliki keingin tahuan
    yang begitu besar dalam mengetahui hasil tes yang diberikan kemarin, sebelum ibu
    memanggil mbak Novia/Aisyah. Namun sebelum ibu menjelaskan hasil tes mbak
    Novia/Aisyah, ibu ingin bertanya dengan kamu. Apakah kamu tahu proses
    konseling itu seperti apa? Dan apakah sebelumnya pernah mengikuti konseling
    individual seperti ini?”
Klien   : “Saya kurang tahu Bu. Dan sebelumnya pun saya tidak pernah mengikuti konseling
    individu. Memang prosesnya seperti apa Bu?”
K’lor    : “Belum pernah sama sekali ya, jadi konseling individual ini dilakukan untuk
   memberikan pemahaman dan memberikan bantuan individual terhadap diri
   seseorang. Dalam konteks ini ibu akan membahas hal yang ada hubungannya
   dengan kamu. Sebelum kita laksanakan proses konseling ini apakah kamu bersedia
   untuk berbicara saling terbuka dengan ibu mengenai permasalahan-permasalahan
   ataupun sesuatu hal yang memang ada di dalam diri kamu? Dan ibu juga berjanji
   ketika melaksanakan konseling ini ibu tidak akan memberikan keterangan ataupun
   membuka rahasia kepada siapapun”
Klien   : “Ya Bu, saya bersedia mengikuti sesi konseling ini dan saya bersedia untuk saling
    terbuka dengan Ibu”.
K’lor    : “Bagus sekali mbak, sebelumnya tadi kan mbak Novia/ Aisyah menanyakan
    mengenai hasil dari tes yang diberikan hari rabu kemarin, nah mari kita bersama-
    sama untuk menafsirkan hasil tes tersebut mbak Novia/ Aisyah”
Klien   : “Baiklah Bu, saya antusias sekali untuk menafsirkan hasil tes ini bu”
K’lor    : “Baguslah jika kamu antusias dengan hal ini. Nah, ini ada lembar hasil tes kamu
                yang kemarin. Coba kamu lihat dulu hasil tes tersebut dengan baik.
Klien   : Maaf Bu, saya tidak dapat memahami apa maksud dari hasil tes ini”.
K’lor    : Iyya, mbak Novia/Aisyah, jadi seperti ini, coba lihat lembaran kamu.
    Dilembaran tersebut dibagian bawah identitas kamu tertulis Hasil Tes intelegensi
    SPM mengenai rentan IQ, PP atau persentil point dan klasifikasinya.
Klien   : “Oh iya Bu, ini ketemu. Maksudnya bagaimana Bu?                      
K’ lor : Jadi disitu tertulis bahwa rentan IQ kamu pada kisaran 110-121 dan memiliki
   persentil poin ≥75, maka itu berarti IQ kamu tergolong diatas rata-rata orang seusia
   kamu. Tetapi hal tersebut merupakan hasil pengukuran dari tingkat IQ kamu sendiri,
   dan perlu kamu ketahui bahwa tingkat IQ seseorang dimuka bumi ini sangat
   bervariatif dan berbeda-beda satu dengan yang lainya dan hal tersebut juga tidak
   serta merta menentukan hasil atau tingkat kecerdasan seseorang itu sendiri.
Klien   : “Iya Bu, saya paham. Kemudian mengenai Hasil tes bakat diferensial ini maksudnya
    bagaimana Bu?
K’lor    : “Ya baik, mari kita lihat sama-sama. Coba perhatikan pada diagram yang memiliki
    beberapa warna tersebut. Diagram yang berwarna hijau, menggambarkan bakat
    verbal atau yg biasa disebut bakat bicara. Kemudian diagram yang berwarna biru
    menggambarkan bakat numerikal. Diagram yang berwarna ungu menunjukkan
    bakat skolastik, bakat skolastik adalah gabungan dari bakat verbal dan numerikal.
    Disampingnya ada bakat abstrak, kemudian diagram disampingnya yang berwarna
    biru ini menunjukkan bakat mekanik. Di sampingnya lagi ada bakat relasi ruang
    dan bakat kecepatan & ketepatan klerikal”.
Klien   : “Kemudian ini maksudnya bagaimana Bu? Di sini tertuliskan bakat verbal saya
    mempunyai skor 27, dan PP 65”.
K’loe   : “Pertanyaan yang bagus mbak Novia/Aisyah. Jadi seperti ini, skor yang dimaksud
    disini adalah jumlah skor soal yang bisa dikerjakan dalam tes kemarin. Mengenai
    PP di sini mbak Novia/Aisyah, jadi PP itu singkatan dari Presentil Point. PP ini
    dikategorikan menjadi tiga tingkatan. Untuk PP 1 s/d 49 itu tergolong rendah, untuk
    PP 50 s/d 74 tergolong sedang, dan PP 75 s/d 100 tergolong kuat. Jadi, bagaimana
    mbak Novia/Aisyah? Apakah kamu sudah bisa mendeskripsikan hal tes bakat kamu
    sendiri?”
Klien   : “Oh iya Bu, sekarang saya sudah sedikit paham. Jadi bakat verbal saya memiliki PP
    65, itu berarti bakat verbal saya tergolong sedang. Kemudian bakat skolastik saya
  memiliki PP #N/A itu maksudnya bagaimana Bu?”
K’lor    : “Iya nanti saya jelaskan. Sekarang coba kamu deskripsikan semuanya dulu”.
Klien   : “Iya baik Bu. Kemudian untuk bakat numerikal  saya memiliki PP 20, dan itu berarti
    tergolong rendah. Untuk bakat abstrak, memiliki PP 10 yang berarti tergolong
    rendah juga. Kemudian bakat mekanik saya juga tergolong rendah. Untuk bakat
    relasi ruang dan bakat kecepatan & ketepatan klerikal saya memiliki PP yang sama
    yaitu 65, yang berarti tergolong sedang. Benarkan demikian Bu?”
K’lor    : “Iya benar sekali mbak Novia/Aisyah. Nah sekarang, Ibu akan coba jelaskan
    mengenai bakat numerikal kamu yang memiliki PP #N/A tersebut. Jadi untuk bakat
    skolastik kamu tidak terditeksi karena sebelumnya memang mbak Novia/Aisyah
    tidak diberikan tes tersebut, jadi hasilnyapun tidak bisa keluar”
Klien   : “Oh seperti itu Bu. Kelihatannya bakat saya yang paling menonjol itu bakat verbal,
    relasi ruang dan kecepatan & ketepatan klerikal ya Bu? Kemudian kelemahan bakat
    saya adalah pada bakat numerik, skolastik, abstrak dan bakat mekanik”.
K’lor    : “Kenapa kamu bisa mengatakan seperti itu mbak Umi?”
Klien   : “Yak karena saya pikir bakat verbal, relasi ruang, kecepatan & ketepatan klerikal lah
    yang memiliki PP yang tertinggi”.
K’lor    : “Bagus mbak Novia/Aisyah, itu benar”.
Klien   : “Terus di bawahnya ada diagram lagi Bu. Maksudnya bagaimana?”
K’lor    : “Iya, jadi diagram ini adalah diagram tentang profil tentang minat jabatan yang
    kamu inginkan, jadi kamu tidak hanya mengetahui tentang bakat kamu saja, tetapi
    juga mengetahui minat kamu”.
Klien   : “Iya Bu. Terus cara mendeskripsikannya apakah sama dengan yang bakat tadi?”
K’lor    : “Iya mbak Novia/ Aisyah, caranya sama dengan yang bakat tadi. Namun di sini
    aspeknya berbeda. Di sini ada minat jabatan dalam bidang pribadi sosial, natural,
    mekanik, bisnis, seni, sains, verbal, manipulative, komputatif, dan tingkat minat.
    Sekarang coba kamu lihat dan deskripsikan hasilnya”.
Klien   : “Dalam bidang pribadi sosial, PP saya sampai 98, berarti itu tergolong kuat ya Bu?
                Kemudian di bidang natural = pp 20 berarti  tergolong rendah, minat bidang
                mekanik = pp 20 berarti tergolong rendah, minat bidang bisnis = pp 80 berarti
    tergolong kuat, minat bidang seni = pp 80 berarti tergolong kuat, minat bidang
    sains = pp 10 berarti tergolong rendah, minat bidang verbal = pp 10 berarti
    tergolong rendah, minat bidang manipulatif = pp 40 berarti tergolong rendah, minat
    bidang komputatif = pp 30 berarti tergolong rendah”.
K’lor    : “Iya bagus sekali penafsiran kamu mbak Novia/Aisyah. Nah sekarang menurut
    kamu, minat jabatan yang paling kamu inginkan pada bidang apa?”
Klien   : “Kelihatannya pada bidang pribadi sosial, bisnis dan seni. Namun saya juga
    memiliki kelemahan pada bidang natural, mekanik, sains, verbal, manipulatif dan
    komputatif. Benar seperti itu tidak Bu?”
K’lor    : “Penafsiran yang kamu kemukakan tadi, sudah benar sekali mbak Novia/Aisyah. Ibu
    rasa kamu sudah sangat paham tentang bagaimana cara menafsirkan hasil tes ini
    yah mbak Novia/Aisyah J”.
Klien   : “Hehe.. iya itu kan karena penjelasan dari Ibu tadi”. Oh ya Bu, sudah bel. Saya harus
                masuk Bu, soalnya nanti ada ulangan B.Indonesia”.
K’lor    : “Oh iya mbak Novia/Aisyah, semoga sukses ya ulangannya. Semoga hasil tes ini
    bermanfaat untuk mbak Novia/Aisyah ya..”.
Klien   : “Iya Bu, amin. Sama-sama ya Bu, saya juga berterima kasih sama Ibu. Ya sudah Bu,
    saya pamit dulu. Assalamu’alaikum (mencium tangan).
K’lor    : “Wa’alaikumsalam. Hati-hati mbak Novia/Aisyah”. 


0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management