DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR
2.1 Konsep Dasar Diagnostik Kesulitan
Belajar
2.1.1
Pengertian Diagnosis
Diagnosis
merupakan istilah teknis (terminology) yang kita adopsi dari bidang medis.
Menurut Thorndike dan Hagen (1995:
530-532), diagnosis dapat diartikan sebgai:
a. Upaya
atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, desease) apa yang
dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama menegnai
gejala-gejalanya (symptons).
b. Studi
yang sesama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau
kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial.
c. Keputusan
yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang seksama atas gejala-gejala atau
fakta tentang suatu hal.
Dari
ketiga pengertian tersebut diatas, dapat kita maklumi bahwa di dalam konsep
diagnosis, secara implisit telah tersimpul pula konsep pragnosisnya. Dengan
demikian, di dalam pekerjaan diagnositik bukan hanya sekedar mengidentifikasi
jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau
penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk
meramalkan, memungkinkan, dan menyarankan tindakan pemecahannya.
2.1.2 Pengertian
Kesulitan Belajar
Burton
(1952: 622-624) mengidentifikasi seorang siswa kasus dapat dipandang atau dapat
diduga mengalami kesulitan belajar apabila yang bersangkutan menunjukkan
kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Kegagalan belajar
didefinisikan oleh Burton sebagai berikut:
a. Siswa
dikatakan gagal apabila dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak
mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan minimal dalam
pelajaran tertentu, seperti yang telah ditetapkan oleh orang dewasa atau guru.
Dalam konteks sistem pendidikan di Indonesia angka nilai batas lulus itu ialah
angka 6 atau 60 atau C (60% dari tingkat ukuran yang diharapkan atau ideal).
Kasus siswa semacam ini dapat digolongkan ke dalam lower group.
b. Siswa
dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat menegrjakan atau mencapai
prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya: intelegensi,
bakat). Ia diramalkan akan dapat mengerjakannya atau mencapai suatu prestasi,
namun ternyata tidak sesuai dengan kemampuannya. Kasus siswa ini dapat
digolongkan ke dalam under archievers.
c. Siswa
dikatakan gagal apabila siswa yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan
tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial sesuai dengan pola
organismenya pada fase perkembangan tertentu, seperti yang berlaku bagi
kelompok sosial dan usia yang bersangkutan. Kasus siswa bersangkutan dapat
dikategorikan ke dalam slow learners.
d. Siswa
dikatakan gaggal kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat
penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat
pelajaran berikutnya. Kasus siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learners
atau belum matang sehingga mungkin harus menjadi peluang pelajaran.
Dari
keempat definisi diatas, dapat kita simpulkan bahwa seorang siswa diduga
mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai
taraf kualifikasi hasil belajar tertentu (berdasarkan ukuran kriteria
keberhasilan seperti yang dinyatakan dalam TIK atau ukuran tingkat kapasitas
atau kemampuan dalam program pelajaran time allowed dan atau tingkat
perkembangannya).
Dalam
hasil belajar, sudah tentu mencakup aspek-aspek substansial-material,
fungsional-struktural, dan behavioral atau yang mencakup segi-segi kognitif,
afektif, dan psikomotor. Sedangkan batasan waktu yang dimaksud, dapat berati
satu periode pendidikan atau fase perkembangan, satu tingkat atau kelas tahun
pelajaran, semester atau triwulan, mingguan bahkan jam pelajaran tertentu.
2.1.3 Diagnostik
Kesulitan Belajar
Dengan
mengaitkan kedua pengertian dasar di atas (butir a dan b), kita dapat
mendefinisikan diagnostik kesulitan belajar sebagai suatu proses upaya untuk
memahami jenis dan karakteristik serta latar belakang kesulitan-kesulitan
belajar dengan menghimpun dan mempergunakan berbagai data/informasi selengkap
dan seobjektif mungkin sehingga memungkinkan untuk mengambil kesimpulan dan
keputusan serta mencari alternatif kemungkinan pemecahannya.
2.2
Prosedur
dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar
Secara
umum langkah-langkah pelaksanaan diagnostik kesulitan belajar selaras dengan
langkah-langkah pelaksanaan bimbingan belajar. Namun secara khusus,
langkah-langkah diagnostik kesuliatn belajar itu dapat diperinci lebih lanjut,
megingat pada hakikatnya hanya merupakan salah satu bagaian atau jenis layanan
bimbingan belajar.
Ross dan Stanley (1956:332-341),
tahapan-tahapan diagnosis itu sebagai berikut:
5. How can errors be prevented?
Bagaimana kelemahan itu dapat
dicegah?
|
||||||||
4. what remedies are suggested?
Penyembuhan-penyembuhan apakah
yang disarankan?
|
||||||||
3. why do the errors occur?
Mengapa kelemahan-kelemahan itu
terjadi?
|
||||||||
2. where are the errors located
Di manakah kelemahan-kelemahan itu
dapat dilokalisasikan?
|
||||||||
1.who are the pupils having trouble?
Siapa-siapa siswa yang mengalami
gangguan
|
||||||||
Burton
(1952: 640-652) menggariskan agak lain, yaitu berdasarkan kepada teknik dan
instrumen yang digunakan dalam pelaksanannya sebagai berikut:
1) General
diagnosis
Pada
tahap ini lazim dipergunakan tes baku, seperti yang dipergunakan untuk evaluasi
dan pengukuran psikologis dan hasil belajar. Sasarannya, untuk menemukan
siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu.
2) Analystic
diagnostic
Pada
tahap ini yang lazimnya digunakan ialah tes diagnostok. Sasarnnya, untuk
mengetahui dimana letak kelemahan tersebut.
3) Psychoogical
diagnosis
Pada
tahap ini teknik pendekatan dan instrumen yang digunakan antara lain:
a. Observasi
b. Analisis
karya tulis
c. Analisis
proses dan respons lisan
d. Analisis
berbagai catatan objektif
e. Wawancara
f. Pendekatan
laboratoris dan klinis
g. Studi
kasus
Sebelum melaksanakan pengajaran
remedial, guru terlebih dahulu perlu menegakkan diagnosis kesulitan belajar,
yaitu menentukan jenis dan penyebab kesulitan serta alternatif strategi
pengajaran remedial yang efektif dan efisien. Diganosis kesulitan belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan
kesulitan belajar. Sebagai prosedur maka diagnosis kesulitan belajar terdiri
dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis. Agar
pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar dapat menghasilkan sesuai dengan
keinginan, maka taat pada prosedur itu merupakan suatu keharusan.
Beberapa langkah pokok/prosedur dan
teknik pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar adalah sebagai berikut:
1.
Identifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar
Beberapa langkah-langkah yang dapat
ditempuh dalam mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan sebagai berikut:
- Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam suatu
kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan dalam belajar baik yang
sifatnya umum maupun sifatnya lebih khusus dalam bidang studi tertentu.
- Teknik yang dapat ditempuh bermacam-macam antara lain dengan:
1)
Meneliti nilai ujian.
2)
Menganalisis hasil ujian dengan melihat tipe kesalahan
yang dibuatnya.
3)
Observasi pada saat siswa dalam proses belajar
mengajar.
4)
Memeriksa buku catatan pribadi yang ada pada petugas
bimbingan.
5)
Melaksanakan sosiometris untuk melihat hubungan sosial
psikologis yang terdapat pada para siswa.
2.
Melokalisasikan Letaknya Kesulitan (Permasalahan)
Setelah kita menemukan kelas atau
individu siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, maka pesoalan
selanjutnya yang perlu kita telaah, ialah (1) dalam mata pelajaran (bidang
studi) manakah kesulitan itu terjadi, (2) pada kawasan tujuan belajar (aspek
prilaku) yang manakah ada kesulitan itu terjadi, (3) pada bagian (ruang lingkup
bahan) yang manakah kesulitan itu terjadi, dan (4) dalam segi kesulitan belajar
manakah kesulitan itu terjadi. Untuk itu dilakukan analisis letak kesulitan
belajar siswa dengan cara sebagai berikut:
a.
Mendekati kesulitan belajar pada bidang studi
tertentu. Dapat dilakukan dengan cara membandingkan angka nilai prestasi individu
siswa untuk semua bidang studi.untuk membuat jelas hal ini sebaiknya dibuat
grafik yang berisi semua mata pelajaran/bidang studi lengkap dengan
nilainya.
b.
Mendeteksi pada kawasan tujuan belajar dan bahagian
ruang lingkup bahan pelajaran dimanakah kesulitan terjadi. Dapat dilakukan
denganmenganalisis
jawaban siswa terhadap soal-soal setiap mata pelajaran. Dari jawaban itu dapat
diketahui pada bagiam mana siswa mendapat kesulitan.
c.
Analisis terhadap catatan mengenai proses belajar.
Analisis yang dimaksud disini adalah analisis terhadap kemampuan menyelesaikan
tugas-tugas, soal-soal saat proses belajar berlangsung, kehadiran atau
ketidakhadiran saat proses belajar berlangsung untuk setiap mata pelajaran,
penyesuaian diri dengan temannya.
3.
Lokalisasi jenis faktor dan sifat yang menyebabkan
siswa mengalami berbagai kesulitan (Diagnosis)
Pada garis besarnya sebab kesulitan dapat timbul dari
dua hal yaitu:
a. Faktor
internal yaitu faktor yang berada dan terletak pada diri siswa itu sendiri. Hal
ini antara lain disebabkan oleh:
1)
Kelemahan mental faktor kecerdasan, intelegensia, atau
kecakapan/bakat: khusus tertentu yang dapat diketahui melalui test tertentu.
2)
Kelemahan fisik, panca indera, syaraf, kecacatan,
kaena sakit dan sebagainya.
3)
Gangguan, yang bersifat emosional.
4)
Sikap dan kebiasaan yang salah dalam
mempelajari bahan pelajaran bahan pelajaran tertentu.
5)
Belum memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar
pelajaran-pelajaran tertentu.
b. Faktor
eksternal, yaitu faktor yang datang dari luar yang menyebabkan timbulnya hambatan
atau kesulitan. Faktor eksternal antara lain meliputi:
1)
Situasi atau proses belajar mengajar yang tidak
merangsang siswa untuk aktif antisifatif (kurang kemungkinannya siswa belajar
secara aktif”student aktif learning”).
2)
Sifat kurikulum yang kuran fleksibel.
3)
Ketidak seragaman pola dan standar administrasi.
4)
Beban belajar yang terlampau berat.
5)
Metode mengajar yang kurang memadai.
6)
Sering pindah sekolah.
7)
Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar
mengajar.
8)
Situasi rumah yang kuran mendorong untuk melakukan
aktivitas belajar.
4.
Perkiraan kemungkinan bantuan (Prognosis)
Apabila kita telaah tentang letak
kesulitan yang dialami siswa, jenis dan sifat kesulitan, latar belakangnya,
faktor-faktor yang menyebabkannya, maka kita akan dapat memperkirakan beberapa
hal berikut:
a.
Apakah siswa tersebut masih mungkin ditolong untuk
mengatasi kesulitannya atau tidak.
b.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi
kesulitan yang dialami siswa tertentu.
c.
Kapan dan dimana pertolongan itu dapat di berikan.
d.
Siapa yang dapat memberikan pertolongan.
e.
Bagaimana cara menolong siswa agar dapat dilaksanakan
secara efektif.
f.
Siapa sajakah yang harus dilibatsertakan dalam
menolong siswa tersebut.
5.
Penetapan kemungkinan cara mengatasinya (Referal)
Pada langkah ini perlu menyusun
suatu rencana atau alternatif-alternatif rencana yang akan
dilaksanakan untuk membantu peserta didik/siswa mengatasi masalah kesulitan
belajarnya. Rencana ini hendaknya berisi:
a.
Cara-cara yang harus ditempuh untuk menyembuhkan
kesulitan yang dialami siswa tersebut.
b.
Menjaga agar kesulitan yang serupa jangan sampai
terulang.
c.
Ada baiknya rencana ini dapat didiskusikan dan
dikomunikasikan dengan pihak-pihak yang dipandang berkepentingan kelak
diperkirakan akan terlibat dalam pemberian bantuan kepada yang bersangkutan
seperti penasehat akademik, guru, orang tua, pembimbing penyuluh dan ahli lain.
Secara khusus kegiatan ini hanya dapat diberikan oleh guru mata kuliah yang
tahu persis tentang berbagai kesulitan yang bisa di alami siswa dalam mata
pelajarannya. Rencana ini harus berisi tentang:
1)
Jadwal kegiatan pemberian bantuan.
2)
Cara bantuan diberikan.
3)
Tempat.
d.
Petugas yang akan memberikan bantuan.
e.
Tindak lanjut bantuan.
6.
Tindak
lanjut
Kegiatan tindak lanjut adalah
kegiatan melakukan bantuan, bimbingan, arahan atau pengajaran paling tepat
dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar, cara ini dapat berupa :
a.
Melaksanakan bantuan berupa melaksanakan pengajaran
remidial pada mata pelajaran yang menjadi masalah bagi siswa tertentu. Remidial
dapat dilakukan oleh guru, atau pihak lain yang dianggap dapat menciptakan
suasana belajar siswa yang penuh motivasi.
b.
Membagi tugas dan peranan kepada orang-orang tertentu
dalam memberikan bantuan pada siswa.
c.
Senantiasa mengecek dan ricek kemajuan terhadap siswa
yang bermasalah baik pamahaman mereka terhadap bantuan yang diberikan berupa
bahan, maupun mencek bahan tepat guna program remedial yang dilakukan untuk
setiap saat diadakan revisi dan improvisasi.
d.
Mentransfer atau mengirim (roferral case) siswa yang
menurut perkiraan tidak dapat ditangani oleh guru kepada orang atau lembaga
lain (psikologi, psikiater, lembaga bimbingan, lembaga psikoligi dan
sebagainya) yang diperkirakan akan lebih dapat dan lebih tepat membantu siswa
tersebut.
2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar
1. Faktor
Internal
Faktor-faktor
yang berasal dalam diri siswa itu sendiri. Hal ini antara lain, disebabkan
oleh:
a. Kelemahan
fisik, pancaindera, syaraf, cacat, sakit, dan sebagainya.
b. Kelemahan
mental: faktor kecerdasan, seperti inteligensi dan bakat yang dapat diketahui
dengan tes psikologis.
c. Gangguan-gangguan
yang bersifat emosional.
d. Sikap
kebiasaan yang salah dalam mempelajari materi pelajaran.
e. Belum
memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar yang dibutuhkan untuk memahami materi
pelajaran lebih lanjut.
2. Faktor
Eksternal
Faktor yang
berasal dari luar diri siswa, sebagai penyebab kesulitan belajar, antara lain:
a. Situasi atau proses belajar mengajar yang tidak
merangsang siswa untuk aktif antisipatif (kurang memungkinkan siswa untuk
belajar secara aktif “student active
learning”).
b. Sifat
kurikulum yang kurang fleksibel.
c. Beban studi
yang terlampau berat.
d. Metode
mengajar yang kurang menarik.
e. Kurangnya
alat dan sumber untuk kegiatan belajar.
f. Situasi
rumah yang kurang kondusif untuk belajar.
2.4 Strategi atau Upaya Meningkatkan
Untuk
mengatasi kesulitan belajar bagi siswa, guru perlu memperhatikan hal hal yang
melatarbelakangi siswa mengalami kesulitan belajar. Namun dalam praktiknya guru
dalam mengatasi kesulitan belajar siswa hanya sekedar mengulangi materi yang
pernah diajarkan tetapi belum dikuasai siswa dan tidak melihat penyebab utama
siswa belum menguasai materi pelajaran itu. Kondisi ini berakibat pada
pemecahan kesulitan belajar anak tidak dapat terselesaikan dengan baik. Salah
satu langkah awal dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut adalah dengan
mencari penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa mencari solusi pemecahan
yang tepat dan mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi kesulitan belajar
yang dialami siswa tersebut. Salah satu cara meningkatkan hasil belajar adalah
mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh siswa adalah melalui:
1.
Pemberian bimbingan belajar
Bimbingan belajar adalah proses bantuan yang diberikan kepada individu
(siswa) agar dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam belajar.
Sehingga setelah melalui proses perubahan belajar, mereka dapat mencapai hasil
belajar yang optimal sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.
2.
Mengajak dan menarik minat siswa untuk belajar aktif
Menurut John Holt, proses belajar
akan meningkat jika siswa diminta untuk melakukan hal hal berikut:
a.
Mengemukakan kembali informasi
b.
Memberikan contohnya
c.
Mengenalinya dalam bermacam bentuk dan situasi
d.
Menggunakan dengan beragam cara
e.
Memprediksi sejumlah konsekwensinya
f.
Menyebutkan kebalikan
Ketika siswa aktif dalam kegiatan
pembelajaran maka siswa dapat mengaitkan apa yang diajarkan kepadanya dengan
apa yang telah diketahuinya sebelumnya. Guru hendaknya menggunakan metode
pembelajaran aktif maupun mix methode
untuk menarik perhatian siswa agar
mau ikut serta dan aktif dalam proses pembelajaran.
3.
Memberikan perhatian dan menciptakan suasana yang
menyenangkan
Para pendidik terutama orang tua dan
para guru supaya memberikan perhatian yang cukup kepada anak didiknya, sehingga
kekurangan atau kelemahan-kelamahan mereka secepatnya diketahui dan diatasi
dengan berkonsultasi sesuia denga keluhan-keluhan yang ada kepada ahli-ahli
yang bersangkutan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
anak yang dapat mempelajari suatu mata pelajaran dengan baik akan menyenangi
mata pelajaran tersebut. Begitu juga sebaliknya, anak yang tidak menyenangi
suatu mata pelajaran biasanya tidak atau kurang berhasil mempelajari mata
pelajaran tersebut. Karenanya, tugas utama yang sangat menentukan bagi seorang
guru adalah bagaimana membantu siswanya sehingga mereka dapat mempelajari
setiap materi dengan baik.
4.
Memberikan sarana dan prasarana yang memadai
Sarana dan prasarana sangatlah
dibutuhkan sebagai media pembelajaran sehingga ketika guru menjelaskan materi,
guru dapat sekaligus mempraktekan di hadapan siswa, dan siswa dapat secara
langsung melihat dan mencobanya. Dengan demikian maka kebutuhan khusus seorang
pelajar dapat terpenuhi. Berikut tipe-tipe khusus pelajar, yaitu:
a. Bertipe
visual, akan lebih cepat mempelajari bahan-bahan yang disajikan secara
tertulis, bagan, grafik, gambar.
b. Bertipe
auditif mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk suara.
c. Bertipe
motorik, mudah mempelajari yang berupa tulisan-tulisan, ataupun gerakan dan
sulit mempelajari bahan yang berupa suara dan penglihatan.


20.00
Unknown
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar