- See more at: http://blog-rangga.blogspot.com/2013/08/cara-membuat-blog-anti-copy-paste-dan.html#sthash.inw5IHhz.dpuf

Jumat, 26 Desember 2014

DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR

2.1    Konsep Dasar Diagnostik Kesulitan Belajar
2.1.1   Pengertian Diagnosis
Diagnosis merupakan istilah teknis (terminology) yang kita adopsi dari bidang medis. Menurut Thorndike dan  Hagen (1995: 530-532), diagnosis dapat diartikan sebgai:
a.    Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, desease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama menegnai gejala-gejalanya (symptons).
b.    Studi yang sesama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial.
c.    Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang seksama atas gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal.
Dari ketiga pengertian tersebut diatas, dapat kita maklumi bahwa di dalam konsep diagnosis, secara implisit telah tersimpul pula konsep pragnosisnya. Dengan demikian, di dalam pekerjaan diagnositik bukan hanya sekedar mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan, memungkinkan, dan menyarankan tindakan pemecahannya.
2.1.2   Pengertian Kesulitan Belajar
Burton (1952: 622-624) mengidentifikasi seorang siswa kasus dapat dipandang atau dapat diduga mengalami kesulitan belajar apabila yang bersangkutan menunjukkan kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Kegagalan belajar didefinisikan oleh Burton sebagai berikut:
a.    Siswa dikatakan gagal apabila dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan minimal dalam pelajaran tertentu, seperti yang telah ditetapkan oleh orang dewasa atau guru. Dalam konteks sistem pendidikan di Indonesia angka nilai batas lulus itu ialah angka 6 atau 60 atau C (60% dari tingkat ukuran yang diharapkan atau ideal). Kasus siswa semacam ini dapat digolongkan ke dalam lower group.
b.    Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat menegrjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya: intelegensi, bakat). Ia diramalkan akan dapat mengerjakannya atau mencapai suatu prestasi, namun ternyata tidak sesuai dengan kemampuannya. Kasus siswa ini dapat digolongkan ke dalam under archievers.
c.    Siswa dikatakan gagal apabila siswa yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial sesuai dengan pola organismenya pada fase perkembangan tertentu, seperti yang berlaku bagi kelompok sosial dan usia yang bersangkutan. Kasus siswa bersangkutan dapat dikategorikan ke dalam slow learners.
d.   Siswa dikatakan gaggal kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya. Kasus siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learners atau belum matang sehingga mungkin harus menjadi peluang pelajaran.
Dari keempat definisi diatas, dapat kita simpulkan bahwa seorang siswa diduga mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu (berdasarkan ukuran kriteria keberhasilan seperti yang dinyatakan dalam TIK atau ukuran tingkat kapasitas atau kemampuan dalam program pelajaran time allowed dan atau tingkat perkembangannya).
Dalam hasil belajar, sudah tentu mencakup aspek-aspek substansial-material, fungsional-struktural, dan behavioral atau yang mencakup segi-segi kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan batasan waktu yang dimaksud, dapat berati satu periode pendidikan atau fase perkembangan, satu tingkat atau kelas tahun pelajaran, semester atau triwulan, mingguan bahkan jam pelajaran tertentu.
2.1.3   Diagnostik Kesulitan Belajar
Dengan mengaitkan kedua pengertian dasar di atas (butir a dan b), kita dapat mendefinisikan diagnostik kesulitan belajar sebagai suatu proses upaya untuk memahami jenis dan karakteristik serta latar belakang kesulitan-kesulitan belajar dengan menghimpun dan mempergunakan berbagai data/informasi selengkap dan seobjektif mungkin sehingga memungkinkan untuk mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternatif kemungkinan pemecahannya.
2.2    Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar
Secara umum langkah-langkah pelaksanaan diagnostik kesulitan belajar selaras dengan langkah-langkah pelaksanaan bimbingan belajar. Namun secara khusus, langkah-langkah diagnostik kesuliatn belajar itu dapat diperinci lebih lanjut, megingat pada hakikatnya hanya merupakan salah satu bagaian atau jenis layanan bimbingan belajar.
Ross dan Stanley (1956:332-341), tahapan-tahapan diagnosis itu sebagai berikut:

5. How can errors be prevented?
Bagaimana kelemahan itu dapat dicegah?


4. what remedies are suggested?
Penyembuhan-penyembuhan apakah yang disarankan?


3. why do the errors occur?
Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi?


2. where are the errors located
Di manakah kelemahan-kelemahan itu dapat dilokalisasikan?

1.who are the pupils having trouble?
Siapa-siapa siswa yang mengalami gangguan

Burton (1952: 640-652) menggariskan agak lain, yaitu berdasarkan kepada teknik dan instrumen yang digunakan dalam pelaksanannya sebagai berikut:
1)      General diagnosis
Pada tahap ini lazim dipergunakan tes baku, seperti yang dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar. Sasarannya, untuk menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu.
2)      Analystic diagnostic
Pada tahap ini yang lazimnya digunakan ialah tes diagnostok. Sasarnnya, untuk mengetahui dimana letak kelemahan tersebut.
3)      Psychoogical diagnosis
Pada tahap ini teknik pendekatan dan instrumen yang digunakan antara lain:
a.       Observasi
b.      Analisis karya tulis
c.       Analisis proses dan respons lisan
d.      Analisis berbagai catatan objektif
e.       Wawancara
f.       Pendekatan laboratoris dan klinis
g.      Studi kasus
Sebelum melaksanakan pengajaran remedial, guru terlebih dahulu perlu menegakkan diagnosis kesulitan belajar, yaitu menentukan jenis dan penyebab kesulitan serta alternatif strategi pengajaran remedial yang efektif dan efisien. Diganosis kesulitan belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar. Sebagai prosedur maka diagnosis kesulitan belajar terdiri dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis. Agar pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar dapat menghasilkan sesuai dengan keinginan, maka taat pada prosedur itu merupakan suatu keharusan.



Beberapa langkah pokok/prosedur dan teknik pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar adalah sebagai berikut:
1.        Identifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar
Beberapa langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan sebagai berikut:
  1. Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam suatu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan dalam belajar baik yang sifatnya umum maupun sifatnya lebih khusus dalam bidang studi tertentu.
  2. Teknik yang dapat ditempuh bermacam-macam antara lain dengan:
1)        Meneliti nilai ujian.
2)        Menganalisis hasil ujian dengan melihat tipe kesalahan yang dibuatnya.
3)        Observasi pada saat siswa dalam proses belajar mengajar.
4)        Memeriksa buku catatan pribadi yang ada pada petugas bimbingan.
5)        Melaksanakan sosiometris untuk melihat hubungan sosial psikologis yang terdapat pada para siswa.
2.        Melokalisasikan Letaknya Kesulitan (Permasalahan)
Setelah kita menemukan kelas atau individu siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, maka pesoalan selanjutnya yang perlu kita telaah, ialah (1) dalam mata pelajaran (bidang studi) manakah kesulitan itu terjadi, (2) pada kawasan tujuan belajar (aspek prilaku) yang manakah ada kesulitan itu terjadi, (3) pada bagian (ruang lingkup bahan) yang manakah kesulitan itu terjadi, dan (4) dalam segi kesulitan belajar manakah kesulitan itu terjadi. Untuk itu dilakukan analisis letak kesulitan belajar siswa dengan cara sebagai berikut:
a.    Mendekati kesulitan belajar pada bidang studi tertentu. Dapat dilakukan dengan cara membandingkan angka nilai prestasi individu siswa untuk semua bidang studi.untuk membuat jelas hal ini sebaiknya dibuat grafik yang berisi semua mata pelajaran/bidang studi lengkap dengan nilainya.  
b.    Mendeteksi pada kawasan tujuan belajar dan bahagian ruang lingkup bahan pelajaran dimanakah kesulitan terjadi. Dapat dilakukan denganmenganalisis jawaban siswa terhadap soal-soal setiap mata pelajaran. Dari jawaban itu dapat diketahui pada bagiam mana siswa mendapat kesulitan.
c.    Analisis terhadap catatan mengenai proses belajar. Analisis yang dimaksud disini adalah analisis terhadap kemampuan menyelesaikan tugas-tugas, soal-soal saat proses belajar berlangsung, kehadiran atau ketidakhadiran saat proses belajar berlangsung untuk setiap mata pelajaran, penyesuaian diri dengan temannya.
3.        Lokalisasi jenis faktor dan sifat yang menyebabkan siswa mengalami berbagai kesulitan (Diagnosis)
Pada garis besarnya sebab kesulitan dapat timbul dari dua hal yaitu:
a.       Faktor internal yaitu faktor yang berada dan terletak pada diri siswa itu sendiri. Hal ini antara lain disebabkan oleh:
1)        Kelemahan mental faktor kecerdasan, intelegensia, atau kecakapan/bakat: khusus tertentu yang dapat diketahui melalui test tertentu.
2)        Kelemahan fisik, panca indera, syaraf, kecacatan, kaena sakit dan sebagainya.
3)        Gangguan, yang bersifat emosional.
4)        Sikap dan kebiasaan yang  salah dalam mempelajari bahan pelajaran bahan  pelajaran tertentu.
5)        Belum memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar pelajaran-pelajaran tertentu.
b.      Faktor eksternal, yaitu faktor yang datang dari luar yang menyebabkan timbulnya hambatan atau kesulitan. Faktor eksternal antara lain meliputi:
1)        Situasi atau proses belajar mengajar yang tidak merangsang siswa untuk aktif antisifatif (kurang kemungkinannya siswa belajar secara aktif”student aktif learning”).
2)        Sifat kurikulum yang kuran fleksibel.
3)        Ketidak seragaman pola dan standar administrasi.
4)        Beban belajar yang terlampau berat.
5)        Metode mengajar yang kurang memadai.
6)        Sering pindah sekolah.
7)        Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar mengajar.
8)        Situasi rumah yang kuran mendorong untuk melakukan aktivitas belajar.
4.        Perkiraan kemungkinan bantuan (Prognosis)
Apabila kita telaah tentang letak kesulitan yang dialami siswa, jenis dan sifat kesulitan, latar belakangnya, faktor-faktor yang menyebabkannya, maka kita akan dapat memperkirakan beberapa hal berikut:
a.    Apakah siswa tersebut masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya atau tidak.
b.    Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami siswa tertentu.
c.    Kapan dan dimana pertolongan itu dapat di berikan.
d.   Siapa yang dapat memberikan pertolongan.
e.    Bagaimana cara menolong siswa agar dapat dilaksanakan secara efektif.
f.     Siapa sajakah yang harus dilibatsertakan dalam menolong siswa tersebut.
5.        Penetapan kemungkinan cara mengatasinya (Referal)
Pada langkah ini perlu menyusun suatu rencana  atau alternatif-alternatif rencana yang akan dilaksanakan untuk membantu peserta didik/siswa mengatasi masalah kesulitan belajarnya. Rencana ini hendaknya berisi:
a.    Cara-cara yang harus ditempuh untuk menyembuhkan kesulitan yang dialami siswa tersebut.
b.    Menjaga agar kesulitan yang serupa jangan sampai terulang.
c.    Ada baiknya rencana ini dapat didiskusikan dan dikomunikasikan dengan pihak-pihak yang dipandang berkepentingan kelak diperkirakan akan terlibat dalam pemberian bantuan kepada yang bersangkutan seperti penasehat akademik, guru, orang tua, pembimbing penyuluh dan ahli lain. Secara khusus kegiatan ini hanya dapat diberikan oleh guru mata kuliah yang tahu persis tentang berbagai kesulitan yang bisa di alami siswa dalam mata pelajarannya. Rencana ini harus berisi tentang:  
1)        Jadwal kegiatan pemberian bantuan.
2)        Cara bantuan diberikan.
3)        Tempat.
d.   Petugas yang akan memberikan bantuan.
e.    Tindak lanjut bantuan.
6.        Tindak lanjut
Kegiatan tindak lanjut adalah kegiatan melakukan bantuan, bimbingan, arahan atau pengajaran paling tepat dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar, cara ini dapat berupa :
a.    Melaksanakan bantuan berupa melaksanakan pengajaran remidial pada mata pelajaran yang menjadi masalah bagi siswa tertentu. Remidial dapat dilakukan oleh guru, atau pihak lain yang dianggap dapat menciptakan suasana belajar siswa yang penuh motivasi.
b.    Membagi tugas dan peranan kepada orang-orang tertentu dalam memberikan bantuan pada siswa.
c.    Senantiasa mengecek dan ricek kemajuan terhadap siswa yang bermasalah baik pamahaman mereka terhadap bantuan yang diberikan berupa bahan, maupun mencek bahan tepat guna program remedial yang dilakukan untuk setiap saat diadakan revisi dan improvisasi.
d.   Mentransfer atau mengirim (roferral case) siswa yang menurut perkiraan tidak dapat ditangani oleh guru kepada orang atau lembaga lain (psikologi, psikiater, lembaga bimbingan, lembaga psikoligi dan sebagainya) yang diperkirakan akan lebih dapat dan lebih tepat membantu siswa tersebut.


2.3    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar
1.    Faktor Internal
Faktor-faktor yang berasal dalam diri siswa itu sendiri. Hal ini antara lain, disebabkan oleh:
a.    Kelemahan fisik, pancaindera, syaraf, cacat, sakit, dan sebagainya.
b.    Kelemahan mental: faktor kecerdasan, seperti inteligensi dan bakat yang dapat diketahui dengan tes psikologis.
c.    Gangguan-gangguan yang bersifat emosional.
d.   Sikap kebiasaan yang salah dalam mempelajari materi pelajaran.
e.    Belum memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar yang dibutuhkan untuk memahami materi pelajaran lebih lanjut.
2.    Faktor Eksternal
Faktor yang berasal dari luar diri siswa, sebagai penyebab kesulitan belajar, antara lain:
a.    Situasi  atau proses belajar mengajar yang tidak merangsang siswa untuk aktif antisipatif (kurang memungkinkan siswa untuk belajar secara aktif “student active learning”).
b.    Sifat kurikulum yang kurang fleksibel.
c.    Beban studi yang terlampau berat.
d.   Metode mengajar yang kurang menarik.
e.    Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar.
f.     Situasi rumah yang kurang kondusif untuk belajar.
2.4    Strategi atau Upaya Meningkatkan
Untuk mengatasi kesulitan belajar bagi siswa, guru perlu memperhatikan hal hal yang melatarbelakangi siswa mengalami kesulitan belajar. Namun dalam praktiknya guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswa hanya sekedar mengulangi materi yang pernah diajarkan tetapi belum dikuasai siswa dan tidak melihat penyebab utama siswa belum menguasai materi pelajaran itu. Kondisi ini berakibat pada pemecahan kesulitan belajar anak tidak dapat terselesaikan dengan baik. Salah satu langkah awal dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut adalah dengan mencari penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa mencari solusi pemecahan yang tepat dan mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa tersebut. Salah satu cara meningkatkan hasil belajar adalah mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh siswa adalah melalui:
1.        Pemberian bimbingan belajar
Bimbingan belajar adalah  proses bantuan yang diberikan kepada individu (siswa) agar dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam belajar. Sehingga setelah melalui proses perubahan belajar, mereka dapat mencapai hasil belajar yang optimal sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.
2.        Mengajak dan menarik minat siswa untuk belajar aktif
Menurut John Holt, proses belajar akan meningkat jika siswa diminta untuk melakukan hal hal berikut:
a.       Mengemukakan kembali informasi
b.      Memberikan contohnya
c.       Mengenalinya dalam bermacam bentuk dan situasi
d.      Menggunakan dengan beragam cara
e.       Memprediksi sejumlah konsekwensinya
f.       Menyebutkan kebalikan
Ketika siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran maka siswa dapat mengaitkan apa yang diajarkan kepadanya dengan apa yang telah diketahuinya sebelumnya. Guru hendaknya menggunakan metode pembelajaran aktif maupun mix methode  untuk menarik  perhatian siswa agar mau ikut serta dan aktif dalam proses pembelajaran.
3.        Memberikan perhatian dan menciptakan suasana yang menyenangkan
Para pendidik terutama orang tua dan para guru supaya memberikan perhatian yang cukup kepada anak didiknya, sehingga kekurangan atau kelemahan-kelamahan mereka secepatnya diketahui dan diatasi dengan berkonsultasi sesuia denga keluhan-keluhan yang ada kepada ahli-ahli yang bersangkutan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang dapat mempelajari suatu mata pelajaran dengan baik akan menyenangi mata pelajaran tersebut. Begitu juga sebaliknya, anak yang tidak menyenangi suatu mata pelajaran biasanya tidak atau kurang berhasil mempelajari mata pelajaran tersebut. Karenanya, tugas utama yang sangat menentukan bagi seorang guru adalah bagaimana membantu siswanya sehingga mereka dapat mempelajari setiap materi dengan baik.
4.        Memberikan sarana dan prasarana yang memadai
Sarana dan prasarana sangatlah dibutuhkan sebagai media pembelajaran sehingga ketika guru menjelaskan materi, guru dapat sekaligus mempraktekan di hadapan siswa, dan siswa dapat secara langsung melihat dan mencobanya. Dengan demikian maka kebutuhan khusus seorang pelajar dapat terpenuhi. Berikut tipe-tipe khusus pelajar, yaitu:
a.       Bertipe visual, akan lebih cepat mempelajari bahan-bahan yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik, gambar.
b.      Bertipe auditif mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk suara.
c.       Bertipe motorik, mudah mempelajari yang berupa tulisan-tulisan, ataupun gerakan dan sulit mempelajari bahan yang berupa suara dan penglihatan.



0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management